5ekawan minus 2 #Eurotrip #harikedelapan

Jumat, 22 Juli 2016.

Tepat pukul 06.14am kami tiba di Munich dari perjalanan tadi malam pukul 23.25pm dari Vienna. Kami kembali tidur malam di kereta dengan gerbong yang berisikan 6 orang. Ketika memasuki gerbong ternyata sudah ada seorang pemuda yang menempati gerbong tersebut, saya rasa dia adalah orang Spanyol dari tampang dan logatnya berbicara. Kemudian kami segera menempatkan dan menata barang bawaan kami serta menyiapkan diri untuk segera tidur. Tak lama kemudian seorang pemuda dan pemudi. Sempat mengobrol sebentar untuk menempatkan barang-barang beliau, kami tahu bahwa mereka adalah orang Jerman (pemuda) dan Austria (pemudi). Pemuda Jerman tampaknya sangat rapih, penampilannya seperti eksekutif muda dengan kemeja putih formal berbahan katun dan klasik dengan point collar with concealed button fastening and triple seam trims, a chest pocket and single cuffs. Sepatu hitam mengkilap, jam tangan yang bagus dan kacamata yang elegan (ala-ala pakaian James Bond mungkin). Berbanding terbalik dengan kami dan penghuni gerbong lainnya. Hahaha

Tak banyak yang kami obrolkan karena memang sudah malam dan semua ingin istirahat. Singkat cerita keesokan harinya, kami bangun sekitar pukul 04am karena adanya pemeriksaan identitas (memasuki wilayah Jerman). Setelahnya pemeriksaan itu, saya bolak, balik rasanya tak bisa tidur lagi. Akhirnya sekitar 15 menit sebelum kereta sampai, kami dan mba (Austria) yang kami belum tahu namanya mengobrol. Beliau mau ke Perancis sebenarnya, namun lebih dekat dengan Munich karena perbatasan. Ternyata setelah mengobrol akhirnya mba tersebut memiliki tujuan yang sama untuk menaiki bus lagi ke Perancis dan kami menuju Innsbruck. Singkat cerita beliau mau berbarangan dengan kami untuk menemukan central bus station yang lokasinya tepat di belakang stasiun. Sebelumnya kami menitipkan barang-barang kami di loker di stasiun Munich HBF ini.

WhatsApp Image 2016-07-30 at 13.43.23

Selama perjalanan menuju ke central bus station dan menunggu bus kami banyak mengobrol. Mba ini bisa panggil Mba Nicole, sedang studi di salah satu universitas di Austria sekaligus bekerja mungkin bisa disebut konsultan untuk anak-anak remaja. Beliau bekerja sebagai teman bagi anak-anak remaja yang memiliki keluarga yang kurang beruntung, broken home family. Keluwesan mba Nicole ternyata terbentuk sejak beliau remaja juga mungkin, karena beliau juga menjadi salah satu host untuk couchsurfing, ya tempat dimana bisa menginap gratis untuk para traveler.

Well done, akhirnya dari Munich kami menuju dan sampailah di Innsbruck,

IMG_0065

IMG_0109

Berlatarkan Hafelekar (Dokomentasi pribadi, copyright: Anita Puspita Sari)

Well done, yea maafkan jika baju yang kami pakai kebanyakan sama. Ya maklumlah kami para traveler yang berprinsip membawa sedikit mungkin barang dalam perjalanan. Setelah mengunjungi Hafelekar kami kemudian berkeliling di sekitaran Innsbruck dengan Insbruck card, dengan menaiki seingseer (kalau saya tidak salah namanya), kami duduk di dalam bus dengan dan memakai headphone yang menceritakan setiap spot yang kami lewati yang ada di kota ini. Walaupun, nol besar cerita yang saya ingat :).

Kemudian kami kembali ke Munich. Sesampainya di Munich, kami bertemu kembali dengan dua orang traveler Malaysia yang sempat bertemu sebelumnya di Berlin. Uwi dan Nidonk yang berkebetulan waktu itu pergi ke toilet, sehingga saya yang datang dan menyapa mereka. Ternyata mereka menanyakan kepada saya apakah saya sudah tahu berita tentang kejadian penembakan yang baru saja terjadi di shopping mall tepat di belakang stasiun Munich HBF dan stasiun Munich HBF ditutup serta sedang dijaga ketat oleh polisi-polisi Jerman. Kaget saya mendengarkan informasi tersebut dan sedikit tidak percaya. Tetapi setelah mencari informasi lebih lanjut akhirnya kami putuskan untuk mengecek ke Munich HBF. Bukan karena kami sok pahlawan dan ingin tahu dari lokasi kejadian, melainkan barang-barang kami semua di locker stasiun yang artinya jika di tutup kami tidak bisa mengambil barang-barang kami untuk dibawa ke hostel. 

13691041_10202135641988300_5879913937521038656_o

Keadaan di stasiun Munich HBF (Dokumentasi pribadi, copyright: Agustin Capriati)

Namun, jangankan untuk hostel semua transportasi baik tram, bus, kereta api dan lain sebagainya tidak berfungsi alias tidak diperbolehkan beroperasi. Means kami harus mencoba alternatif lain untuk ke hostel karena jaraknya yang memang cukup jauh. Taxi menjadi alternatif kami, akan tetapi hal ini bisa ditebak, karena semua orang lain yang juga ingin pulang dan pergi akan menggunakan alternatif yang sama, berebutan mencari taksi. Kemudian saya melihat novum hotel, hotel yang sempat saya booking namun tidak bisa karena ada email konfirmasi dari mereka yang tidak sampai ke email saya bahwa terjadi kesalahan dalam proses pembookingan.

Alhamdulillahnya petugas hotel memberikan alternatif bagi kami untuk pergi ke hotel lain terdekat. Namun apa daya, semua hotel disekitar lainnya menuliskan fully booked semua tepat di depan pintu masuk. Kami sempat panik karena bingung harus naik apa ke hostel yang sudah saya booking, imperial hostel.  Singkat cerita ada taksi yang akhirnya berhasil kami cegat, tetapi berebutan dengan orang Afrika dan pasangan China Filipina. Awalnya Sopir taksi bilang kalau beliau tidak menerima penumpang karena beliau akan keluar Munich malam ini. Namun, beliau mengendarai mobilnya menjauhi sedikit penumpang lain tadi dan memanggil kami dan kami disuruh masuk mobil, setelah saya menunjukkan alamat dari hostel imperial.

Sempat khawatir dan takut-takut kami masuk mobil, namun alhamdulillah begitu pintu saya tutup beliau mengucapkan Assalamualaikum, segera cepat kami jawab Waalaikumussalam. Ternyata beliau seorang muslim dan mungkin karena melihat kami mengenakan jilbab dengan tampang pasrah akhirnya beliau mau mengantarkan kami ke hostel imperial. Saya yang masih belum percaya 100% akhirnya meminta Nidonk untuk tetap tracking dan menyocokkan jalan ke arah hostel yang ingin kami tuju. Alhamdulillah akhirnya kami sampai di hostel imperial. Beliau akhirnya mengucapkan salam perpisahan dan berpesan untuk hati-hati.

Sesampainya di hostel imperial, saya menunjukkan bukti booking hostel. Namun apadaya resepsionis, si Bapak dengan sedikit panik menanyakan kapan kami booking dan saya menjelaskan bahwa sudah 3 atau 4 minggu yang lalu. Namun, karena adanya kejadian di Munich HBF nampaknya semua hostel atau tempat penginapan menghindari memasukkan tamu ke penginapan mereka walaupun sudah melakukan booking dalam sebelumnya. Beliau berkelit dengan alasan nomor rekening pembayaran saya tidak bisa digunakan. Saya tetap bersih keras bahwa nomor rekening pembayaran yang berikan benar dan menunjukkan serta menyocokkannya sebagai bukti. Tetap beliau ngotot bahwa kami tidak bisa check in, beliau malah berkilah bahwa sudah mengirimkan email bahwa permintaan saya untuk booking sudah di tolak melalui email dan saya pun menjawab tidak ada email yang masuk, karena saya booking melalui booking.com , akhirnya beliau malah menyalahkan booking.com yang tidak menyampaikan email dari mereka. Wah parah juga ini orang ya!!! Secara pribadi saya tidak sangat menyayangkan bahwa hostel imperial yang tidak memperbolehkan kami untuk check in dengan alasan yang terlalu dibuat. Tetapi saya juga tidak bisa secara penuh menyalahkan atas kebijakan tersebut karena mungkin mereka takut daripada nanti bermasalah, menghindari takutnya sindikat dari kejadian Munich HBF.

Sempat berpikir dan memutar otak siapa yang bisa kami hubungi dalam keadaan darurat seperti ini, yang sebelumnya tidak sempat terpikirkan. Kak Reza, adalah salah satu kontak yang saya punya yang bilang bahwa memiliki teman di Munich. Akhirnya hampir tengah malam (waktu yang sangat tidak tepat untuk menelepon), kami meminta kontak teman beliau jika boleh untuk menginap malam ini. Alhamdulillah akhirnya kami diberikan kontak Mas Azis, anak PhD yang lagi kurses bahasa Jerman di Munich. Untuk menuju alamat Mas Azis kami juga kesusahan mencari taksi, akhirnya dalam mencari taksi selanjutnya kami dibantu oleh seorang pemuda dan seorang bapak yang saya bahkan tidak sempat menanyakan siapa nama beliau dan darimana, yang jelas beliau membantu kami untuk memberhentikan taksi.

Sesampainya di tempat Mas Azis, kami sempat bercerita sedikit mengenai perjalanan kami dan kejadian Munich HBF. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi pergi ke Paris besok (sesuai dengan jadwal yang telah kami susun) melainkan segera mencari tiket kembali ke Belanda. Alhamdulillah kami bisa tidur malam ini dengan aman. Terima kasih atas segala bantuan dan lindungan-MU YA ALLAH !!!!

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *