Kenapa harus mengeluh?

Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri saya sendiri yang tak jarang mengeluh atau ngedumel kalau kata orang jawa. Sebagai manusia dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya saya kadang (banyak waktu) menyalahkan kenapa a,b,c, bisa terjadi kenapa tidak d,e,f kenapa harus kepada saya? coba ini, coba itu??? dan banyak pengandaian lainnya yang bertujuan untuk membenarkan pemikiran saya sendiri yang belum tentu benar.

Beberapa minggu belakangan ini sepulangnya dari fieldwork dari Malta saya melanjutkan membaca buku Kubik Leadership yang ditulis oleh Farid Poniman, Indrawan Nugroho, dan Jamil Azzaini hasil pinjaman dari Mba Nani. Lama sekali saya tidak membaca buku-buku yang membantu saya berpikir akan mengoreksi diri dan melihat kembali seperti cermin apa yang sudah saya lakukan dan kenapa akhir-akhir ini menjadi begitu tidak produktif dan tidak banyak kemajuan yang berakhir pada mengeluh.

Buku ini tidak hanya mengupas seperti judulnya tentang kepemimpinan. Namun, secara ilmiah dan contoh konkrit dikehidupan nyata tentang kenapa seseorang bisa berkembang, kenapa tidak, kenapa cepat atau lambat. Well, semua itu dijelaskan secara gamblang dari segi ilmu pengetahuan alam, sosial dan agama. Sedikit ulasan mengenai buku ini terkait dengan mengeluh dan kenapa hal tidak mujur menghampiri dalam waktu yang berdekatan.

Semua mungkin tahu dengan Hukum Kekekalan Energi (HKE) dimana energi itu tidak bertambah dan tidak berkurang tapi hanya berubah bentuk dari satu ke bentuk lainnya. Buku ini menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan itu sama halnya dengan HKE. Sebagai contohnya aksi yang kita keluarkan terhitung sebagai energi, akan kembali menjadi reaksi dalam bentuk energi pula. Hal yang patutu digarisbawahi adalah jenis aksi yang kita lakukan, apakah itu dalam bentuk aksi yang positif atau sebaliknya. Sampai sekarang mungkin sudah sedikit jelas bukan? apa yang kita lakukan sebagai aksi baik positif ataupun negatif akan kembali juga kepada diri kita sendiri sebagai reaksinya.

Agamapun telah menjelaskan, “Seberat biji zarahpun kebaikan atau keburukan kita akan mendapat balasannya”. Sebenarnya, banyak para ilmuan hebat, orang-orang terkenal, orang-orang kaya dan orang-orang yang mempunyai jabatan adalah mereka yang telah menebarkan aksi positif sehingga mereka mendapatkan reaksi yang setimpal (in this case, tidak termasuk orang kaya karena hal yang tidak benar, orang terkenal karena jalan pintas, dsb).

Nah, sekarang kembali lagi ke judul yang saya tulis, “kenapa harus mengeluh?” jawabannya sederhana “kenapa tidak bersyukur?“. Kenapa mesin waktu sampai sekarang belum ada yang bisa menciptakan dan menemukan? karena kita akan malu sendiri jika bisa melihat kesalahan-kesalahan yang telah perbuat dan melalaikan waktu-waktu yang ada. Sepatutnya kita bersyukur atas segala keburukan yang telah terjadi kepada kita, karena sebenarnya keburukan itu adalah reaksi dari aksi yang telah kita lakukan juga. Jadi, tidak menyalahkan a,b,c dan membenarkan d,e,f. Jika kita menyadari bahwa hal-hal yang buruk terjadi karena apa yang telah kita lakukan, maka ke depannya setiap orang akan sadar bahwa hal baik yang sepatutnya ditebar dan BERSIAPLAH MEMANEN HASILNYA, berupa reaksi yang baik-baik yang kadang kita sadari sebagai rejeki nomplok, kebetulan dan untungnya 🙂

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *