Mengenal negara sendiri dari WNA

Minggu ketiga dalam pertemuan saya dengan orang yang ingin belajar bahasa Indonesia. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, bahwa beliau akan ke Indonesia dalam 2/3 minggu mendatang. Hari ini saya lagi-lagi di ajarkan secara tidak langsung oleh WNA bahwasanya betapa kayanya Indonesia.

Pertama, beliau menanyakan tentang budaya orang Bali, yang secara khususnya sebenarnya saya tidak begitu mengerti dan hanya tahu secara kulitnya saja. Untungnya, memiliki teman orang Bali asli selama di perkuliahan S1 membuat saya sedikit banyak tahu bagaimana tentang adat, budaya dan kepercayaan orang Bali serta tempat-tempat yang sering dijadikan tempat liburan bagi para bule mancanegara dan bule lokal.

Kedua, beliau menanyakan bahwa apakah kebiasaan dan memang tipekal orang Indonesia jika mereka tidak tahu, mereka tidak bertanya untuk tahu. Pertanyaan ini sebenarnya membuat saya tersentil karena kebanyakan memang faktanya demikian, banyak sekali Indonesian yang jika tidak tahu tidak ingin bertanya untuk tahu namun hanya diam, entah itu karena berpikir malu untuk bertanya, atau ada alasannya lainnya. Saya menjelaskan bahwa itu tergantung dari orangnya, namun beliau menyatakan bahwa tapi kebanyakan dari orang Indonesia, begitu kan? dan saya terpaksa harus mengiyakan karena memang faktanya demikian.

Ketiga, beliau menanyakan bahwa tentang kepercayaan, kenapa harus pergi ke Pura, kenapa harus sholat dan lain sebagainya. Sedangkan beliau tidak memiliki kepercayaan dan setiap hari masih terbangun dalam keadaan sehat-sehat saja katanya dan beliau tidak merasakan pentingnya memiliki kepercayaan dimana. Saya menjelaskan bahwa dari kepercayaan kita akan memiliki ketenangan batin secara tersendiri dan juga bisa lebih menyehatkan tubuh, karena dari ritual “keagamaan” tersebut kita ada toksin-toksin yang terkeluarkan dari tubuh melalui proses relaksasi.

Keempat, beliau menanyakan kenapa kebanyakan orang Indonesia yang sudah dewasa memiliki tinggal dan kebanyakan tinggal dekat dengan keluarga, beliau juga menambahkan apakah tidak biasa bagi orang Indonesia untuk mengambil liburan “liburan”, yang mana pergi untuk menjelajah ke tempat-tempat lainnya selain berada di sekitaran lingkungan rumahnya atau keluarganya saja. Well, dalam hal ini memang harus saya akui bahwasanya orang indonesia kebanyakan memang lebih memiliki tinggal dekat dengan keluarga dan jarang ada yang mengambil liburan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni: dalam keluarganya sendiri, memang sudah tinggal di tempat yang dijadikan tempat destinasi liburan bagi kebanyakan orang, misalnya memang sudah tinggal di Bali. Kedua, keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk mengambil liburan yang mana dalam hal ini, memang perkapita WNI memang masih tergolong rendah. Malahan untuk memikirkan makan apa hari ini saja masih bermasalah, sehingga kata liburan kemana, sulit untuk datang dan diagendakan. Ketiga, tingkat stress orang Indonesia cenderung sangat rendah, sehingga essensial liburan tidak dijadikan prioritas.

Kelima, beliau menanyakan kapan harus menggunakan imbuhan kata “ber, me, an, nya” dan lain sebagainya dalam kelimat. Saya yang notaben nya bukan guru bahasa Indonesia juga bukan guru bahasa Inggris menjelaskan hal ini lumayan agak kesulitan, karena memang dalam proses imbuhan kata menurut saya ada di level bahasa yang lebih tinggi. Hal ini mengajarkan saya bahwasanya memang belajar bahasa Indonesia terlihat mudah, namun Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu berada di level Dewa. Bangganya kali ini saya dengan bahasa Indonesia dan ingin menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, akan sangat terlihat kaku dikabanyakan orang. Hal inilah yang menyebabkan terkikisnya nilai-nilai bahasa yang dikemudian di singkat-singkat dan dijadikan banyak shorcut. 

Sekian cerita belajar Indonesia dari WNA hari ini, target setelah saya lulus adalah berkeliling Indonesia. Mengenal budaya, bahasa dan alamnya serta akan saya tuliskan di website pribadi saya ini. Jadi, nantikan tulisan berikut nya setelah saya di Indonesia kembali tentang indahnya negeri ku.

Wageningen, 25 January 2017. 11.35AM

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *