Menuju Wageningen #perjalanan

WP_20150813_20_35_28_Pro__highresAlhamdulillah, pada tanggal 12 Agustus 2015 saya telah didaftarkan dan mendapatkan tiket menuju Wageningen baik dari Malang-Jakarta, Jakarta-Malaysia, Malaysia-Amsterdam, Amsterdam-Ede-Wageningen, Ede-Wageningen-Wageningen University, Wageningen University-Bornsesteeg. Jika kita urut ada 6 kali tempat perberhentian sampai Bornsesteeg, tempat saya akan tinggal.

Satu hari sebelumnya, resah memang bukan karena akan pergi jauh dalam waktu yang cukup lama, 2 tahun. Namun lebih resah lagi untuk menghadapi komunikasi yang akan menjadi internasional, pola budaya yang jauh berbeda, jenis joke yang tidak akan sama, serta menghadapi tipe pengajar dan pola belajar mengajarnya. Rasa itu kian bertambah ternyata seiring detik-detik keberangkatan semakin dekat.

Pesawat yang akan mengantarkan saya menuju Amsterdam dari Jakarta adalah Malaysia Airlines. Ada beberapa sebagian dari kita yang sedikit khawatir dengan maskapai ini. Mengingat terjadinya kecelakaan pesawat dan tujuan yang sama. Ya balik lagi, semua sudah ada yang atur kok. Bulatkan hati,,, Bismillah saya ingin menjalankan amanah untuk studi.

Pukul 8.41 WIB dari Malang, saya menuju Abdur Rahman Shaleh Airport, Malang. Saya berangkat menuju Jakarta pada pukul 10.55 bersama mama saya. Perjalanan kami alhamdulillah cukup lancar. Sesampainya di Jakarta, saya bersama mama makan dahulu di KFC dekat terminal 2F, agar mudah untuk bertemu dengan yang lain dengan meeting point yang tepat. Wellm tanpa di sengaja tiba-tiba perempuan asal ITB, Mira namanya ,yang pernah melaksanakan program bersamaan, JENESYS ketika di Jepang menyapa “Hai, Agustin”, “Hei,,, saya menjawab, bagaimana kabarny”. Ternyata Mira baru landing juga dari perjalanan tugasnya, Surabaya. Ternyata Mira mau menunggu keberangkatan temannya juga dari satu alumni, warga ITB, Dika namanya. Dika adalah teman saya yang akan berangkat pula ke Wageningen. Wah,,, dipikir-pikir ternyata temannya teman akan bertemu dan dalam lingkaran yang bisa kita jangkau.

Well done, tidak lama kemudian datang pula lah teman saya lainnya. Tiket keberangkatan saya ke Malaysia untuk transit sebelum ke Amsterdam adalah pukul 18.15 WIB. Saya diantarkan mama saya, hingga pukul 15.13, dikarenakan beliau juga akan melanjutkan perjalanan ke kampung halaman. Sedih, memang rasanya, namun saya yakin dari sorot mata beliau meskipun bulir-bulir air matanya masih bisa tertahan, ada keyakinan yang lebih besarnya dari beliau bahwa ananda akan melaksanakan tugas tersebut dengan baik dan menyelesaikannya dengan membanggakan. Terima kasih ibunda.

Mari saya ceritakan perjalanan ini, perjalanan untuk menuju ke Amsterdam akan ditempu dalam waktu kurang lebih 14 jam yang terbagi menjadi 2 jam dari Indonesia ke Malaysia dan 12 jam dari Malaysia ke Amsterdam. Perjalanan 2 jam pertama, yang saya rasakan hanya waktu yang singkat mengingat perjalanan 2 jam ditempuh oleh pesawat terbang sama dengan perjalanan Malang-Surabaya (no transit) pun demikian. Kami berkumpul di terminal 2D, Gate 2 dan melakukan check in berombongan kurang lebih 10 orang sebagai strategi overweight bagasi. Jatah bagasi maksimal untuk maskapai Malaysia Airlines yang kami dapat adalah 30kg dan ternyata berat bagasi saya 30.04kg…. Sudah was-was memang, tapi alhamdulillah diberikan toleransi oleh petugas check in nya..

Untuk kawan-kawan yang akan melakukan perjalanan dari Indonesia ke Amsterdam yang perlu dibawa ketika penerbangan sebenarnya hanya Airlines ticket dan paspor. Namun karena mungkin perjalanan tersebut adalah perjalanan pertama kali atau rasa khawatir banyak yang serentetan membawa dokumen lainnya. Ketika check in saya hanya menunjukkan tiket dan paspor, setelah check in karena akan ada dua lembar kertas yang akan kita dapat, tiket dari jakarta-malaysia dan malaysia-amsterdam. Saya menyiapkan tiket jakarta-malaysia dan paspor sedangkan yang satunya saya simpan ditempat yang berbeda. Hati-hati nanti tiket bisa jatuh atau hilang, tentunya kejadian yang tak diinginkan. Perjalanan 2 jam pertama masih biasa mungkin hal ini dikarenakan memang waktu tempu yang tidak cukup lama dan penumpang pesawat juga yang masih kebanyakan orang Indonesia.

Pengalaman yang cukup menarik mulai perlahan saya alami, 21.55 ketika kami menunggu boarding time, dua suara asing dari anak kecil yang kira-kira berumur 8 dan 5 tahun berbicara dengan fasehnya ala kompeni. Tertawa dalam hati, wah ternyata saya sudah satu pesawat dengan penumpang lain yang kebanyakan berambut pirang, badan jangkung, mata tajam dan dalam, hidung yang manjung serta gaya-gaya traveler dan bisnis. Sembari mencari seat saya perlahan berjalan melihat sekitar, datang dihitung dengan jari tangan dan kaki jumlah orang Indonesia, yang saya tahu kami berangkat 12 orang ditambah dengan seorang bapak dan anaknya yang kebetulan duduk tidak jauh dari saya. Masih belum percaya, namun itu memang nyata. Saya akan menuju ke Amsterdam, Belanda. Kesempatan yang tertunda pada tahun 2010 itu ini menjadi nyata, sangat nyata dan dalam waktu yang cukup lama. “…Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan” . Alhamdulillah,,, nikmat dan waktu dari Allah memang hanya menjadi rahasianya, kita harus meyakininya. Saya sudah mengalaminya, saya sudah mengalami saya ingin memasuki UGM dengan 3x mencoba tes namun semua gagal dan diterimalah saya alhamdulillah di UB yang ternyata membawa banyak barokah. Saya bisa mencicipi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) bersama sahabat-sahabat yang luar biasa dan diberikan kesempatan untuk mengikuti Mahasiswa Berprestasi Nasional serta bonus beberapa perjalanan yang tidak disangka-sangka bisa saya lalui. Allahu Akbar.

Kembali ke perjalanan, 12 jam di dalam pesawat bisa dikatakan akan menjadi waktu yang membosankan jika dibayangkan kita hanya duduk diam dan menunggu waktunya landing. Namun tidak pada faktanya, banyak sekali yang bisa dilakukan selama perjalanan. Pertama, makan, bukan karena kita membawa makanan yang banyak kemudian makan cantik di pesawat. Namun karena memang selama perjalanan kita diberikan makanan berat dan makanan ringan masing-masing 2x. Ditambah kita bisa meminta atau mengambil sendiri makanan yang sudah disediakan di pesawat. Selain itu, kita bisa berbincang dengan teman sebelah kita terkait kegiatan nanti atau pun hal lainnya. Kemudian, kita bisa mendengarkan musik, radio, ataupun menonton film. Makanan yang disediakan oleh maskapai Malaysia Airlines relatif masih cocok dengan lidah kita, warga indonesia. Intinya, makanan di dalam pesawat masih bisa diterima dengan baik.

Pukul menunjukkan 06.13 am waktu Amsterdam, di layar monitor terpampang perjalanan kami tinggal 2 menit lagi. Pada waktu yang sama akhirnya kami mendarat di Schipol International Airport, Amsterdam. Kami berjalan menujur garbareta yang telah disediakan, saya lihat matahari pagi mulai tampak, bewarna jingga bulat dengan langit biru yang tampak pudar masih kekurangan cahaya pendarnya. Namun tetap sama, langit tetap biru matahari tetap bewarna oranye dan berjejer dengan awak pesawat yang siap berangkat. Tetap sama, pemandangannya, langit dan matahari tetap begitu. Tetapi sekarang saya melihatnya dari tempat yang berbeda, Amsterdam jarak 14 jam perjalanan dari Jakarta, Indonesia.

Sesampainya di bandara Schipol kami langsung menuju tempat pengambilan bagasi. Sekitar 7 menit saya menunggu dan muncul lah koper hitam 28″ yang dibaluti plastik kuning bening… Ya, koper itu milik saya,,, setelah semua bagasi kami di ambil, Kami berkumpul bersama dan menuju ke GWK Travelex yang mana yang akan mengeluarkan uang kami, jatah hidup kami selama 1.5 bulan ke depan. Cukup lama menunggu antrian hingga pukul 08.33 kami semua selesai dan menuju ke meeting point dengan yang ditandai dengan bentuk kubus merah putih, menunggu jemputan dari kakak PPI yang baik hati.

Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan dengan kereta api. Letaknya tak jauh dari meeting point menuju ke stasiun Ede-Wageningen. Koper kami yang besar-besar cukup menyulitkan kami untuk masuk kerata api. Well done, akhirnya sampai pula lah kami di stasiun Ede-Wageningen yang akan kami lanjutkan kemudian dengan menggunakan bus untuk menuju kampus Wageningen. Perjalanan kurang lebih 13 menit hingga akhirnya kami sampai di kampus Wageningen dan melihat dengan jelas secara langsung bentuk gedung yang bewarna coklat kotak yang selama ini baru bisa saya lihat di google.

Saya menuju FORUM, gedung yang menjadi ikon untuk kampus Wageningen di google. Disana semua siswa baru akan melakukan registrasi. Saya berjalan menuju forum dan kemudian memasuki gedung tersebut untuk segera mengambil antrian menuju meja informsi. Di meja informasi kita akan diberikan formulir yang disusun rapi di map merah. Kemudian selanjutnya diminta untuk menuju ke tempat housing desk untuk pick up the key housing yang sudah kita pesan. Kunci kamar sudah saya dapatkan, namun proses nya kami harus menuju meja informasi lainnya yang ditandai dengan balon sebagai penjelasan hidup di Wageningen baik dari segi informasi mengenai dokter, tempat membeli peralatan rumah tangga dan toko-toko serta tenpat lainnya yang akan menunjang kehidupan kami selama di Wageningen. Well done, semua informasi sudah kami dapatkan, terakhir adalah sesi foto untuk mendapat WUR student card atau KTM biasa kita menyebutnya.

Setelah selesai kemudian, kami menunggu van yang akan mengantarkan kami menuju housing masing-masing. Bornsesteeg, adalah tempat yang akan saya tinggali. Menaiki lift dengan menekan angka 15, lantai yang akan saya tuju….. (bersambung)

Wageningen, 14 Agustus 2015

Be Sociable, Share!

1 thought on “Menuju Wageningen #perjalanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *