Sabtu-Minggu di Ambon


Hari demi hari yang sudah terlewati membuat saya cukup merasa frustasi disetiap detiknya. Entah mengapa dan bagaimana, selalu ada saja yang membuat geram. Hingga jumat yang lalu, ketika saya putuskan untuk segera menuliskan semua apa yang saya pikirkan, mengisi buku tulis saya hingga halaman terakhir dan tak ada lagi tempat untuk menulis. Tangan saya rasanya sangat capai untuk menggoreskan huruf demi huruf namun otak saya tetap berpikir terus, menyambungkan kata demi kata hingga terangkai menjadi beberapa kalimat mengalir begitu saja. Hingga akhirnya saya putuskan untuk membuat rekaman suara dan mendengarkan nya kembali. Beberapa kali rekaman suara saya sendiri saya dengarkan, akhirnya sayapun menemukan sebuah jawaban. Memikirkan, menganalisa dan mengoreksi apa yang saya alami dan pikirkan sendiri. Wow…ternyata cukup mengejutkan juga hasilnya. Penerimaan dan bersyukur atas apa yang didapatkan mungkin adalah kuncinya, kunci agar saya tidak frustasi dan mudah geram.

Well, Sabtu, saya jalani dengan rasa legah. Duduk di sebuah kursi plastik bewarna biru, bersandar nyaman menghadap rumah-rumah yang berbaris dataran tinggi yang bersatu padu dengan hijaunya pepohonan menjadi pemandangan saya. Ditemani dengan segelas teh panas dan buku karyanya Agustinus Wibowo yang berjudul garis batas, sunggu Sabtu yang indah. Namun sayangnya tak berlangsung lama, rintik-rintik yang disusul dengan kucuran air hujan lebat ditemani dengan anginpun mulai tiba. Air hujan cepat menyapu kaca jendela, memaksa saya untuk menutupnya. Pemandangan rumah-rumah dibarisan dataran tinggi yang saya nikmatipun, kini tidak terlihat lagi, tertutup awan putih tebal yang tak kira-kira. Angin kencang dan tetesan air yang menyapa di muka, memaksa saya untuk masuk kembali ke kamar dan meneruskan membaca di dalam ruang.

Tak reda, awan tak mampu lagi menahan uap air yang tak mampu menahan gravitasi bumi. Hingga adzan dhuhur pun berkumandang, hujan tak juga reda. Selepas sholat, sayapun kemudian membuka laptop untuk menonton youtube. Berselang lebih dari satu jam kemudian, hujanpun berhenti. Saya segera memutuskan, ingin keluar dan menikmati udara yang baru saja basah karena air hujan. Berbekal payung dan tas slempang hitam, saya pergi ke Mall City Maluku. Menurut saya ini adalah pilihan yang tepat, karena melihat awan masih melengkungkan garis bak garis pelangi namun warnanya abu-abu muram, menandakan ia belum akan meninggalkan bumi untuk beberapa jam ke depan.


Sesampainya di Mall, segera saya menuju Gramedia. Iyap, karena buku yang saya baca sudah habis, saya ingin menghabiskan weekend dengan kenyamanan dan kenikmatan rangkaian cerita yang tertuang indah dalam tulisan. Gramedia, sayapun mencari buku yang menjadi target, namun setelah berkeliling dari rak ke rak, buku yang saya cari tidak ada. Hal ini memaksa saya untuk bertanya kepada petugas Gramed, benar, seperti postingan saya sebelumnya, jangan mengharapkan senyuman, hehehe. Ternyata buku yang saya cari memang tidak tersedia. Well ya,,, sayapun tetap mencari alternatif apa yang akan saya baca, tak mau pulang dengan tangan kosong. Akhirnya buku karya nya Pramoedya dan Tere Liye saya bawa pulang. Luckily, saya juga menemukan buku tulis tanpa garis dengan jenis kertas book paper, agak kekuningan. Perfect!!! Saya bisa menulis lagi 🙂

Menyempatkan mampir ke Hypermart akhirnya sayapun berbelanja beberapa bahan makanan untuk beberapa hari ke depan.  Namun, ketika saya selesai berbelanja dan mau pulang, hujan pun kembali datang. Alternatively, saya menghubungi Om Teko untuk meminta dijemput, untungnya beliau siap dan selang beberapa menit saya dijemput. Sabtu yang alhamdulillah menyenangkan.


Benar ternyata pelajaran penting dari semua adalah menerima dan menyukuri setiap keadaan, maka semua akan berbalik menjadi hal yang indah dan menyenangkan.


Hari Minggu, ketika saya buka jendela, matahari pagi mulai malu-malu menampakkan wajahnya, waaah… sunny day. Teriak saya dalam hati, segera setelah mandi, teh panas membangunkan saya seutuhnya, kaca jendela dan pintu kamar saya buka lebar-lebar, membiarkan matahari menyapu lantai ruangan yang nampaknya kedinginan. Minggu pagi,,, matahari bersinar cerah… 🙂 Karena cerahnya cuaca hari ini, sangat sayang untuk dilewatkan, segera ganti pakaian dan sayapun berjalan-jalan, saya putuskan untuk membeli setrika di salah satu toko dekat dengan kosan. Namun, tak tersedia dan yang adapun tidak sesuai. Berjalan lagi, menghampiri toko berikutnya, hingga tanpa saya sadari saya sudah berjalan hingga ke terminal/pasar Mahardika. Wuuuhuuu,,,, lumayan juga, ketika saya cek di aplikasi handphone (yang automatically set), saya berjalan lebih 8 kilometer dan lebih dari 8000 langkah. Wah masih kurang untuk standar 10.000 langkah perhari ternyata.

Banyak hal yang saya temukan di perjalanan, saya tahu dimana tempat untuk menjahit pakaian, bordir, penjual elektronik, toko komputer, toko kain, beberapa tempat kopi, tempat service HP, tempat jual parfum, jual perabotan rumah tangga, jual beli emas, dan lainnya. Wow… super, Minggu yang memberikan warna baru di Ambon. Untungnya setrika yang dicaripun bertemu, jadilah saya membeli setrika, setelah mendatangi berbagai macam toko. Sesekali saya duduk saya diam, menikmati lalu lalang orang-orang berseliweran, lucu juga untuk diamati. Ada yang berjalan tergopoh-gopoh namun kebanyakan berjalan pelan.

Weekend di Ambon 🙂
Menyenangkan ketika penerimaan dan bersyukur telah datang, terima kasih Ambon.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *