Seminar Nasional Ikan Hiu dan Pari Manta

Sabtu, 1 Oktober 2016.

Auditorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro (UNDIP), melalui garis antrian registrasi di meja panitia, sekitar kurang lebih 150 mahasiswa dan umum menghadiri Seminar Nasional tentang Ikan Hiu dan Pari Manta di Jawa Tengah. Peserta tampaknya sangat antusias untuk mendengarkan materi. Dibuka Sambutan dari Pembantu Dekan III, Dr. Irwani dan pembukaan oleh Wakil Walikota Semarang.

img_1783-copy img_1785-copy

Pesan yang disampaikan oleh Walikota Semarang meliputi empat hal yakni:

  1. Memanfaatkan seminar ini untuk eksploitasi diri unutk menjaga dan melestarikan ikan hiu dan pari manta di Indonesia.
  2. Edukasi tentang pentingnya menjaga ekosistem laut terutama ikan hiu dan pari manta.
  3. Upaya Rencana Aksi Nasional Indonesia meliputi Ikan Hiu dan Pari Manta
  4. Agar seluruh elemen masyarakat mengetahui, sadar dan melakukan aksi nyata untuk pelestarian ikan hiu dan pari manta serta menjaga ekosistemnya.

Kemudian materi pertama disampaikan oleh Bapak Dharmadi, selaku wakil dari Badan Penelitian dan Pengembangan (BALITBANG) Kelautan Perikanan tentang Ikan Hiu dan Pari Manta sebagai megafauna di Indonesia yang patut dijaga. Beliau menjelaskan bahwa semenjak tahun 2008 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan Australia telah melakukan penelitian/pendataan ikan hiu dan pari manta di Samudera Hindia. Sensus biota ini telah dilakukan dibeberapa titik misalnya di Cilacap, Tanjungluar, Pelabuhan Ratu dan Kupang. Sesi materi oleh Pak Dharmadi ini dimoderatori oleh Pak Munasik, selaku dosen FPIK UNDIP.

Beliau menambahkan pula banyak kesempatan img_1790-copyuntuk mahasiswa untuk melakukan penelitian dan berkontribusi sebagai enumerator ikan hiu dan pari manta di beberapa titik lainnya di Indonesia. Beliau menambahkan pula masih ada beberapa topik yang masih sangat dibutuhkan dan memiliki relevansi yang tinggi seperti keterkaitan dengan sosial ekonomi ikan hiu dan pari manta dengan masyarakat, genetika dan juga tentang dinamika populasinya.

Hal yang menjadi catatan penting dari beliau adalah bahwa penangkapan ikan hiu dan pari manta di Indonesia sebagian besar dikarenakan oleh bycatch, tangkapan yang bukan menjadi target tangkapan namun ikut tertangkap. Selain itu, tingginya permintaan akan sirip hiu pun turut mendukung pasar dan nelayan untuk tetap dan malah menjadikannya sebagai target tangkapan. Pernyataan ini di dapatkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan di beberapa titik di Indonesia.

img_1796-copy

img_1806-copyMateri selanjutnya disampaikan oleh Bapak Syamsul Bahari Lubis dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam bidang Keanekaragam Hayati dan Lingkungan, beliau menambahkan bahwa ikan hiu dapat bermanfaat dalam jangka panjang jika dimanfaatkan secara berkelanjutan seperti melalui ekowisata. Beliau menjelaskan bahwa konservasi untuk ikan hiu dan pari manta diadakan untuk menjaga dan menjadi pengendali atau mengatur perikanan secara berkelanjutan. Jika tidak dijaga maka ikan hiu dan pari manta berkemungkinan besar akan sama nasib nya dengan ikan terubuk yang terancam punah keberadaannya.

Sesi tanya jawab pun dari peserta silih berganti, antusias peserta untuk tahu lebih banyak terkait ikan hiu dan pari manta dalam artian biologi, ekologi, dan kebermanfaatan serta kebijakannya semakin memuncak. Selepas acara makan siang, acara seminar nasional kembali dilanjutkan oleh salah satu Ahli dalam Ikan Hiu dan Pari Manta dari WWF Indonesia, Dwi Ariyoga Gautama yang menyampaikan materi tentang pariwisata ikan hiu di Indonesia. Beliau menyebutkan bahwa ada sekitar 150 titik yang menjadi tempat wisata ikan hiu. Akan tetapi beliau juga menyampaikan bahwa wisata dapat menjadi solusi atau ancaman, karena wisata kerap dan identik sekali dengan jumlah sampah-sampah yang bertambah baik dari pengunjung yang tidak bertanggung jawab atau masyarakat sekitar. Mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan ahlinya ikan hiu dan pari manta di Indonesia juga bonus yang saya dapat dalam menghadiri seminar kali ini.

img_1820-copy img_1853-copy

Acara kemudian ditutup oleh Nadine Chandarwinata selaku penggerak Sea Soldier, atau penggiat lingkungan dalam melakukan aksi-aksi peduli lingkungan. Nadine juga menceritakan beberapa pengalamannya terkait beberapa spot diving yang pernah ia kunjungi dan beberapa berbagi pengalaman tentang beberapa aksi yang dilakukan oleh kolega maupun famili nya dalam kampanye say no to shark soup dan lain sebagainya.

img_1821-copy img_1848-copy

img_1845-copy

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *