Serambi dan Eksotisme Bahari Sabang, Terpikat Pariwisata di Aceh

Butiran-butiran pasir dan deburan ombak yang bergulung menjadi satu perlahan-lahan pecah oleh karang menjadikan laut sebagai ekosistem yang paling kompleks. Struktur habitatnya pun jelas dari darat, bibir pantai hingga menjorok ke dasar laut. Ekosistem yang kompleks dan rentan terhadap perubahan terwakili oleh mangrove, lamun dan terumbu karang. Barisan pohon mangrove pun berjajar rapih dari jenis Sonneratia hingga Rhizopora. Sambung menyambung disambut oleh lamun yang tak jarang hanya dianggap sebagai rumput hingga terumbu karang yang kadang ditafsirkan sebagai batu. Keanekaragaman hayati nya pun berlimbah, mulai dari burung-burung pantai, kepiting bakau, ikan-ikan kecil, bintang laut, sponge, berbagai jenis bentos, cacing laut, hingga ikan-ikan besar yang tak jarang terhidang di meja makan.

Sabang adalah kota kecil yang terletak di paling utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan India, Thailand dan Malaysia. Berjarak kurang lebih 23 km dari Kota Banda Aceh. Sabang merupakan kota yang menjadi titik pangkal Indonesia yang menyimpan surga bawah laut kelas dunia. Tak heran jika Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan Sabang sebagai salah satu destinasi wisata nasional Indonesia. Sejarah juga mencatat bahwa Sabang pernah dijadikan ujung tombak kota pelabuhan terpenting dibandingkan dengan Singapura.

Sumber: Google Maps

Sumber: Google Maps

Eksotisme bahari Sabang menyita banyak perhatian mulai dari wisatawan lokal hingga mancanegara. Masyarakat yang ramah hingga berbagai jenis seafood memang memanjakan para pengunjung dan tak jarang menjadikan ketagihan untuk kembali datang. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan kapal ferry dengan waktu sekitar 2-3 jam dan 45 menit jika menggunakan kapal cepat. Namun ada pula beberapa pantai yang dapat ditempuh dengan kendaraan darat.

Sumber: pasirpantai.com

Sumber: pasirpantai.com

Pengalaman saya mengunjungi pantai kian intens semenjak menyandang status sebagai mahasiswa perikanan dan kelautan. Kami menempuh perjalanan darat dengan mengendarai mobil berpenumpang 8 orang. Mobil rombongan kami harus berhenti di bahu jalan dan perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Saya dan rombongan menenteng tas yang berisi kaki katak, kacamatan renang dan snorkel. Setelah berjalan kurang lebih 300an meter, kami mulai berpapasan dengan nelayan yang membawa kantong-kantong putih bergelembung. Satu, dua, tiga dan empat kami pun akhirnya penasaran apa yang dibawa oleh nelayan yang terlihat bergegas dengan baju yang masih mengucurkan air dengan kaki telanjang.

Melewati nelayan berikutnya kami bertanya, “maaf pak, apa yang bapak bawa sepertinya terburu-buru sekali”. Usut punya usut ternyata isi dari kantong putih bergelembung adalah ikan-ikan hias yang baru saja ditangkap kemudian untuk didistribusikan kepada distributor. Saya melirik arloji di tangan kanan, pukul 09.17 dan beliau sudah berlawanan arah untuk pulang, untuk menjual ikan hias hasil tangkapannya. Namun, jangan salah kaprah, ikan-ikan hias yang ditangkap rupanya ditangkap dengan menggunakan jaring-jaring yang dioperasikan secara perlahan hingga ikan masuk ke dalam jaring, cara yang berkelanjutan. Tak heran jika nelayan ikan hias disini tetap bertahan karena ikan dan habitatnya berimbang lestari.

Diambil oleh: Andrew, 2016.

Diambil oleh: Andrew, 2016.

Tak lebih dari 100 meter ke utara akhirnya kami merasakan sentuhan angin pantai yang manja dengan bau air laut yang khas, campuran air dengan garam yang terevaporasi oleh stimulasi panasnya sinar matahari. Segera kami bersiap-siap menggunakan alat snorkeling dan menyelupkan muka dan mengapungkan badan melihat ke bawah air. Ikan-ikan dengan sisik yang bergaris-garis seperti garis zebra-cross dengan warna biru, kuning, jingga, hijau kebiru-biruan, hingga abu kehitaman lalu lalang melintasi pandangan kami. Beberapa kali ingin mengabadikan gambarnya melalui kamera namun tak tega rasanya melihatnya keluar masuk terumbu karang dan anemon-anemon karena keberadaan kami. Akhirnya setelah lebih dari setengah jam pun berlalu. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir pantai dengan nyiur kelapa yang melambai-lambai.

Source: backpackerindonesia.com

Sumber: backpackerindonesia.com

Seiring menyusuri pantai, salah seorang nelayan menjajakan kepada kami ikan hasil tangkapannya sebagai menu makan siang kami. Kami pun mengiyakan dengan bayangan ikan segar yang akan terasa manis dagingnya dan sedikit rasa gosong dibagian luar kulitnya yang dibalut dengan kecap manis, cabai hijau dan bawang merah. Menu makan siang kami ditemani dengan es kelapa muda, murni yang secara langsung dikupas di tempat tanpa tambahan gula apalagi susu, nikmat rasanya.

Rasa syukur kami ternyata tidak berakhir dengan menu makan siang yang istimewa. Namun, juga ditemani oleh nelayan-nelayan yang tidak canggung lagi bercerita dengan ramah dan apa adanya. Cerita tentang kehidupan nelayan yang hidup berdampingan dengan alam, dengan laut, dengan ombak serta biota-biotanya. Berbaur bersama nelayan sembari menyantap makan siang merupakan nikmat yang tak terhingga.

Mari-Rayakan-Sabang-Marine-Festival-2016-Lewat_Tulisan

Ditulis oleh Agustin Capriati, dalam rangka mengikut lomba Marine Blogging Competition oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, didukung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Badan Pengembangan Kawasan Sabang (BPKS), dan Pemerintah Kota Sabang.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *