Tinggal di Indonesia Timur: jangan miskin dan jangan sakit!



Segelas teh panas pekat beraromakan kayu manis ditemani dengan pisang goreng melengkapi pagi ini dengan pemandangan megahnya Gunung Api di Banda. Lalu lalang nelayan kecil merapat dan mulai menyandarkan perahunya, menjajakan hasil tangkapan ikan semalam. Menggerakkan roda ekonomi masyarakat Banda, menggeliatkan aktivitas pagi penduduk setempat.

Pagi ini saya dapat duduk bersantai, terlepas dari rutinitas selama seminggu terakhir. Menyelam, mengambil foto, dan mengumpulkan data untuk kebutuhan pengembangan kawasan konservasi perairan Ay dan Rhun, dua pulau yang cukup besar di kepulauan Banda.


Tinggal dan berbaur dengan warga di Kepulauan Banda khususnya di Pulau Neira, menyaksikan bagaimana masyarakat berinteraksi, hospitality yang mereka miliki ditengah keterbatasan untuk mobilisasi bahkan antar pulau. Tak jarang kadang menyentuh dan menyadarkan saya bahwasanya memang konektivitas dari satu tempat ke tempat yang lain sangatlah penting, akses transportasi serta sarana kesehatan dan pendidikan yang memadai memang menjadi problematika dan tantangan utama sebagian besar masyarakat Indonesia. Yap, sebagian besar karena memang lebih dari 50% masyarakat Indonesia tinggal dan menggantungkan hidupnya dengan pesisir dan perairan. Namun, ketika datang dengan urusan fasilitas kesehatan, ada yang mengiris dan ironi. Teringat satu kalimat dari teman saya:

kalau tinggal di wilayah timur, syaratnya hanya ada dua: kaya dan sehat atau jangan miskin dan jangan sakit”.

Mulanya saya tak mengindahkan kalimat yang menurut saya agak ironi tersebut. Akan tetapi, setelah menyaksikan seorang kolega kantor (berdasarkan ceritanya) hingga meninggal karena terlambat mendapatkan fasilitas kesehatan dan pertolongan pihak rumah sakit. Serta kolega lainnya yang juga kesulitan mendapatkan rawat inap di rumah sakit. Saya pun akhirnya sanksi dengan fenomena dan fakta yang ternyata sangat benar adanya.


Menurut data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, bahwasanya jumlah penduduk Indonesia bagian timur (Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat) adalah sekitar 7.1. juta jiwa atau berkisar 2.7% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Namun demikian, fasilitas kesehatan dan pendidikan yang tersedia di provinsi tersebut bisa dikatakan sangat minim dan jauh dari fasilitas yang memadai.

Kadang heran, karena sebagian besar warga negara Indonesia (khususnya laki-laki) menikmati cengkeh dari Maluku, hasil ikan laut serta keindahan dari Indonesia Timur. Namun, jika menilik perbandingan antara pemanfaatan dan yang didapatkan masyarakat atau ketersediaan fasilitas nampaknya hampir selalu berbanding terbalik.

Ah, entahlah… semoga pendapat dangkal saya salah!


Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *