Wageningen-Lüneburg (Pengalaman Winter Break)

Perjalanan memang tidak ada yang tahu, dimana bisa berawal dan berakhir semua kadang jauh dari prediksi dan nalar kita sebagai manusia. Bersilahturahmi guru SMA yang berdomisili di Jerman merupakan suatu kesempatan yang tidak semua orang dapatkan dan saya merasa beruntung mendapatkannya.

Lüneburg, sebuah kota terletak kurang lebih 50km ke arah tenggara dari kota Hamburg. Saya putuskan untuk berangkat pada tanggal 28 Desember 2015 ke Lüneburg dan pulang tanggal 1 Januari 2016 ke Wageningen. Perjalanan sendiri kadang membutuhkan keberanian, walaupun banyak orang yang melakukan perjalanan sendiri dan it’s fine. Akan tetapi, bagi saya perjalanan keluar Belanda, sendiri dan tanpa navigasi yang jelas kecuali bermodalkan rute yang tertera di tiket dan informasi tambahan dari internet tidak menghilangkan rasa was-was. Bermodalkan basmallah saya mulai perjalanan.

28 Desember 2015, saya bangun pagi pukul 06.15, disini masih gelap, karena memang matahari dan mulai nampak pukul 8.40an, well berbeda jika saya di Sekayu, Palembang, Malang atapun kota lainnya di Indonesia. Bersyukurlah dengan jadwal siang dan malam yang sama di khatulistiwa :). Segera saya bangun, mandi dan tidak lupa membuat kopi sebagai menu wajib di pagi hari. Kemudian, dilanjutkan dengan sholat shubuh, menyiapkan bekal untuk perjalanan dan mengecek semua kelistrikan karena akan ditinggal beberapa hari.

Pagi itu saya ingat, jadwal kereta saya pukul 09.17 dan membutuhkan waktu seitar 25-30 menit dari tempat tinggal saya ke stasiun menggunakan bus. Alhasil saya mengasumsikan untuk mengambil bus pukul 8.39 atau 8.43, sehingga cukup strategis waktu untuk tidak terlalu lama menunggu. Akan tetapi, pukul 8.40 yang tak ada bus pun datang dari Bus Stop Bornsesteeg, saya mulai berdiri duduk dan berdiri lagi, memerhatikan papan jadwal tentang keberangkatan bus dan menyocokkan dengan jadwal yang saya punya. Berkali-kali saya perhatikan dan benar seharusnya ada bus 4.39. Well, saya kembali duduk menunggu untuk jadwal bus 8.43 namun pukul 8.45 pun bus juga belum muncul. Saya mulai gelisah, karena akan terancam terlambat kereta. Ternyata di papan pengumuman, terpampang bahwa bus baru akan ada pukul 8.50. NO!!! Mulai sedikit jengkel saya menggerutu, kenapa bisa bus nya telat, karena jika berangkat pukul 8.50 means akan datang di stasiun pukul 9.20 dan kereta saya pukul 9.17, telat 3 menit. Mulai jengkel, namun saya ingat, saya ini mau liburan, mau mengunjungi dan menjalin silaturahmi, tak mau menghancurkan perjalanan yang menjadi pengalaman hanya dengan ketelatan bus. Bisik hati, fine, all is well, alhasil semesta memang mendukung, beberapa tempat yang harusnya bus stop untuk mengangkut penumpang sebelum sampai di stasiun kebanyakan kosong. Sehingga bus bisa melewati nya tanpa berhenti yang artinya bisa lebih cepat sampai ke stasiun. Taraaaa….. benar, jam 9.17 bus saya mendarat di stasiun kereta Ede-Wageningen, segera turun bus saya berlari menuju track kereta tujuan Arnhem, legah bisa sampai dan melihat papan pengumuman bahwa kereta tujuan Arnhem belum berangkat dan malah ditunda 5 menit yang akan datang. Tersenyum simpul saya waktu itu, malu telah menggerutu, toh memang ditakdirkan untuk demikian.

Well, sesampainya di Arnhem, maka akan berganti kereta dengan tujuan Hangele, kemudian Zutphen, berganti lagi tujuan ke Hannover dan Terakhir ke Lüneburg. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 5 jam 41 menit. Sesampainya di Lüneburg, saya sedikit bingung, karena tidak mendapatkan wifi dan hp saya tidak bisa terhubung ke internet untuk memberikan kabar kepada Miss Tutik (sudah mam, tapi panggilan miss susah saya ganti) dan keluarga. Alhasil saya putuskan saja, untuk menuju pintu keluar, tidak ada tanda dalam bahasa inggris untuk pintu keluar. Alhamdulillah di Belanda saya membaca bahwa pintu keluar adalah uitgang dan karena bahasa Belanda dan bahasa Jerman hampir meskipun tidak sama, ada tulisan aufgang. Well, akhirnya sampailah saya di pintu keluar. Ternyata benar, Miss Tutik dan kedua anak beliau sudah menunggu. Alhamdulillah, bisa bertemu kembali tidak di Sekayu namun di Lüneburg, Jerman. Kadang memang seperti mimpi, karena saya yang menghabiskan 17 tahun di desa kecil, sekarang bisa bertemu dengan beliau yang sudah melanglang buana di negeri orang, yang memotivasi bagaimana Jawa itu dan bagaimana dunia.

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan sebentar di tengah kota Lüneburg, bangunan-bangunan Eropa memang megah, bangunan tua, indah dan menawan. Merah bata, hitam dan warna-warna yang terkesan natural memang elegan. Dari kota Lüneburg, kami naik bus menuju Deutch Evern, tempat dimana Miss Tutik dan keluarga tinggal. Tenang, suasana rumah-rumah disana sejuk, dengan jalanan yang lenggang dengan kendaraan, udaranya segar dan banyak pohon-pohon yang akan menghijau pada musim semi.

29 Desember 2015, berkenalan dengan kedua anak beliau merupakan kesenangan tersendiri. Sarapan bersama yang membuat saya kagum, karena anak beliau yang berumur 2.5 tahun duduk di bangku nya sendiri, pelan namun pasti mengoleskan mentega dan coklat ke roti nya sendiri, menuangkan minum ke gelasnya sendiri. Betapa mandirinya bocah berusia 2.5 tahun ini. Banyak pelajaran yang bisa saya petik, dari cara Miss Tutik dan suami mendidik anaknya, yang tidak bisa saya ceritakan melalui tulisan karena tak mampu saya tuliskan. Kemudian, pukul 10 pagi, ibu dari suami miss Tutik datang, untuk menjemput dan bermain dengan anak beliau. Kami kemudian, makan siang bersama, dan berangkat ke pusat kota Lüneburg kembali.

30 Desember 2015, pukul 9.15 kami berangkat untuk ke kota lagi kali ini, Miss Tutik berjanjian dengan temannya, orang Malaysia yang menikah juga dengan orang Jerman. Berkeliling ke beberapa tempat di tengah kota memang indah, ada gereja tua yang berdiri kota di tengah kota, kemudian juga ada perpustakaan, dan ada juga museum garam. Kagum saya dengan kota ini, nyaman, bersih, udara dingin memang membuat orang cepat berlalu lalang dan terkesan sibuk dengan kehidupannya sendiri. Namun, saya rasa tidak demikian kepribadian yang mereka miliki. Sedikit banyak kami mengobrol mengenai bagaimana kehidupan muslim di Jerman, dan di Eropa secara umumnya. Memang menjadi muslim yang bukan di negara yang bermayoritas memeluk dan memercayai suatu agama adalah tantangan tersendiri yang sulit untuk dijelaskan jika tidak dialami sendiri, poin penting yang saya ambil adalah bagaimana menata dan menjadi agen muslim yang baik, dan memiliki toleransi.

31 Desember 2015, hari ini hari terakhir di tahun 2015 karena besoknya akan disambut dengan tahun awal tahun 2016. Suami Miss Tutik pulang lebih cepat, karena kerja setengah hari dan diliburkan setengah harinya. Saya asyik bermain dengan anak beliau dan kadang, disela-selanya kami bercerita dan bertukar pikiran mengenai beberapa hal penting sebagai orang Indonesia, atau warga negara asing di Jerman dan/ataupun di Belanda. Tulisan ini hanya sedikit dari apa yang saya dapatkan, bukan bermaksud tidak mau berbagi informasi atau pengalaman yang saya dapatkan namun tak bisa kembali saya ungkapkan pengalaman yang berharga ini untuk saya tuliskan semua. Otak saya sepertinya sudah berjalanan beberapa kali lebih cepat namun jemari ini tak mampu mengikuti untuk menuangkannya dalam tulisan. Hari ini, dari siang sampai malam mungkin bisa dibilang kami sibuk didapur, membuat cake pandan, salad  kentang, menyiapkan beberapa bumbu untuk grill nanti malam, membuat bakso dan rangkaian kegiatan dapur lainnya.

Makan malam, kami dengan bakso daging, teh/kopi/susu hangat. Ah, saya bingung menjelaskannya, yang jelas malam ini saya senang. Suami beliau bisa berbahasa Indonesia, karena pernah tinggal di Indonesia dari selama 9 bulan (Desember-Agustus), bisa berbahawa Jawa pula. Super kan,,,, beliau sangat menyayangkan nilai-nilai sejarah, bahasa dan budaya di Indonesia yang mulai luntur. Memang tahu dan bisa bahasa asing adalah nilai plus. Akan tetapi, kebanyakan dari kita memang, orang Indonesia lupa dan malu untuk berbahasa daerah. Saya ingat juga, ketika saya kuliah di Malang, akhir-akhir masa perkuliahan semakin banyak orang luar Jawa datang dan kemudian mengubah pola bahasa warga setempat, seperti mas-mas nasi goreng juga bilang, “lu pesan berapa” namun dengan logat Jawa,,,

Well, pelajaran disini adalah orang asing pun sangat peduli dan menyayangkan jika bahasa dan budaya lokal hilang. Bagaimana dengan pemiliknya sendiri??? Kadang, memang harus disentil dahulu, baru sadar apa yang kita punya adalah harta berharga, bukan yang belum kita miliki atau yang akan kita miliki. Simply say, hargai yang kita punya, karena harganya akan lebih berharga jika kita kehilangannya. Well, pukul 9 malam, anak-anak beliau sudah tidur semua, kami yang akan merayakan tahun baru mulai menyiapkan grill ala-ala :D, udang, ayam, sosis dan sate jamur paprika telah siap di meja. Pukul 10 lebih kami duduk di meja, memulai panggang memanggang sementara menunggu tahun baru. Banyak mengobrol dan bertukar pendapat tentang budaya di Indonesia, budaya di Jerman, beberapa informasi yang saya tahu tentang budaya di Belanda dan lainnya.

Kemudian, setelahnya kami menonton komedi Jerman jaman dahulu, untungnya tayangannya dalam bahasa Inggris sehingga bisa dimengerti. Namun, dengan subtitle bahasa Jerman, cukup sudah saya merasa menyesal tidak belajar bahasa Jerman ketika di ajak ngobrol oleh anak beliau dengan bahasa Jerman. Hahahaha,,,, yang bisa saya jawab adalah bitte,,, meminta untuk anak beliau dengan pelan agar sedikit bisa mengerti. Namun, hasilnya belum maksimal, harus masih banyak belajar. Tiga menit menjelang tahun baru (count down nya ada di TV), suami Miss Tutik menyiapkan tiga gelas kosong yang kemudian dituangkannya lah orange juice, tepat sepuluh detik sebelum tahun baru kami berdiri dan menunggu hitungan mundur kemudian juice cantus, sekali tenggak juice kami habis, segera kami ke flur (Deutch) untuk memasang jaket dan sepatu untuk keluar rumah. Ternyata diluar rumah, para tetangga telah berjejar rapi dengan kembang api nya masing-masing. What a wonderful night :). Kami lewati malam tahun baru bersama. Terima kasih atas hospitality, pengalaman, pembelajaran dan semuanya untuk Miss Tutik dan keluarga.

1 Januari 2016, saya kembali untuk ke Wageningen. Perjalanan yang saya tempuh yaitu dari stasiun Lüneburg menuju ke Hamburg, Hamburg – Osnabrück, Osnabrück – Hengelo, Hangelo -Zutphen, Zutphen – Arnhem, Arnhem – Ede-Wageningen, Ede-Wageningen – Bornsesteeg. Bornsesteeg-14B9 :). Alhamdulillah.

*maaf tidak ada gambar yang bisa saya cantumkan karena keegoisan saya untuk menikmatinya indah dalam ingatan.

 

Be Sociable, Share!

1 thought on “Wageningen-Lüneburg (Pengalaman Winter Break)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *