Setelah melewati lembah self-doubt ditahun kedua. Memasuki tahun ketiga saya mulai tercerahkan dengan semuanya memang butuh proses dan kalau diawal gak lancar atau kurang smooth atau kurang terlihat hasilnya, then, let it be that way. Mungkin emang itu adalah jalan yang terbaik dan mungkin itu adalah memang proses yang harus dijalani oleh PhD (saya sendiri maksudnya, orang lain mah beda pastinya ya). Di tahun ketiga, saya mulai mencoba fokus untuk dapat menganalisis sampel yang sudah di bawa ke Wageningen.
Hal pertama yang saya lakukan yaitu mencoba untuk menganalisis sampel air untuk mengetahui kandungan nutrient (nitrat, nitrit, fosfat, dan amnonia). Tantangan pertamapun di mulai karena di Wageningen University sendiri tidak memiliki alat untuk mengukurnya, yang ada hanya untuk sampel freshwater alias air tawar. Well, jangan tanyakan universitas sekelas Wageningen aja belum ada alatnya karena di sini riset yang udah lama itu memang tentang pertanian bukan laut yes. Sedangkan air yang saya bawa adalah air laut, asin, dan memiliki kandungan garam. Alhasil ketika saya mencoba memasukkan sampel saya ke lab tersebut, not detected oleh mesin (karena memang kandungan nutrientnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan air tawar dan sensitivitas mesinnya adalah air tawar, jadi air laut saya tidak bisa terbaca kandungannya).
Oh my…. well, setelah ngobrol sana sini dan tanya ke beberapa teman yang kemungkinan melakukan analisis yang sama, akhirnya menemukan jawaban bahwa dapat melakukan analisis air lautnya di NIOZ institut. Karena institusi ini adalah di luar kampus sayapun harus mencari tahu, kontak person yang dapat dihubungi. Untungnya, supervisor saya networkingnya kece badai dan kenal banyak orang. Alhamdulillah dikenalkan dengan orang di NIOZ dan sempat juga berdiskusi dengan temennya supervisor. Sayapun diberikan kesempatan untuk trial 10 sampel awal dan hurray berhasil. Alhamdulillah… Tapi gak berhenti di sana, lab di NIOZ ternyata banyak juga sampel yang harus dianalisis sehingga jika saya mau menganalisis sampel air di sana, harus antri juga. Setelah berdiskusi dan negosiasi, Alhamdulillah sampel saya mendapatkan antrian berbarengan dengan sampelnya temen supervisor. Yuhuuu… checked.
Sampel yang kedua adalah sampel makroalgae yang akan dicek kandungan nitrogennya. Berdasarkan riset bahwa algae itu bisa akumulasi kadar nitrogen di daunnya sehingga jika ada tambahan atau tidak alami maka akan ada signal yang terlihat dari nilai nitrogen yang jauh lebih tinggi daripada normal. Simpelnya gitu. Nama analisinya adalah stable isotope, di Wageningen sebenarnya ada lab yang dapat menyediakan analisis ini, namun setelah ditanyakan karena lab.nya bukan dari chair group saya maka harus bayar lagi dan satu sampel biayanya 20an euro. Iya satu sampel, bayarkan kalau ada 50 sample saja berarti udah seribu euro, udah lebih dari separuh biaya hidup perbulan di sini. Supremasi,,, lagi-lagi karena koneksi yang bagus, saya bisa melakukan analsiis isotop ini di lab yang saya dengan catatan saya harus melakukannya sendiri dan biayanya hanya 6 euro per sampel, well dan bonusnya lagi adalah dapat menggunakan alat yang super canggih dan diajarin ama teknisinya. Alhamdulillah, akhirnya di Bulan November ditengah dingin dan gelapnya Texel, dengan lokasi lab di lantar dasar, dungeon, setelah lebih dari empat minggu sampel pun berhasil di analisa. Alhamdulillah
Sampel yang ketiga adalah benthic cyanobacterial mats (BCM). Sampel ini akan saya analisis community structure nya dan jenisnya apa aja, nantinya juga mau deteksi apakah ada bakteri-bakteri indikator yang biasanya ditemukan di terestrial area atau bakteri yang sifatnya patogen/penyakit untuk karang. Analisis ini dilakukan dengan pendekatan secara genetik mengingat cyanobacteria segede (sekecil itu ya kali pake mikroskop) hehehe… Tantangan lab.work kedua dimulai. Lab yang biasanya dipake juga agak full dan karena saya belum memiliki basic yang cukup untuk perform lab sendiri, jadi harus ditemani oleh teknisi atau senior yang sudah ngerti dengan lab. Nah, hal ini menyisakan saya dengan ketergantungan dengan orang lain yang jadwalnya juga cukup padat. Jadi sebagai altenatif lainnya adalah supervisor saya (lagi-lagi karena networkingnya yang kece badai) memberikan ide untuk melakukan DNA atau genetik analisisnya di Naturalis Biodiversity Leiden. Mulai melakukan proses administrasi dan Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan resmi sebagai guest researcher di Naturalis dan dapat perform lab work nya di sana. Keuntungannya adalah laboratorium di Naturalis karena dia bukan universitas jadi tidak banyak mahasiswa untuk antrian analisisnya. Semua proses berjalannya melakukan analisis ekstraksi DNA sendiri, PCR, dan kemudian sequencing.
Lantas apakah semua beres dan bisa langsung dapat data? ooo tentu tidak, well untuk sampel air dan isotope betul bisa langsung dapat angkanya. Namun untuk sampel genetik harus nunggu lagi hasil sequencingnya dan kemudian barulah bisa dianalisa. Proses yang semula saya pikir akan lebih cepat dan paling menarik untuk dikerjakan ternyata memakan waktu yang jauh dari prediksi.
Intinya di tahun ketiga PhD yang banyak saya lakukan adalah melakukan analisis lab. Karene mungkin ada kebosanan ngelab mulu maka disela-sela jadwal tidak ngelab. saya juga masih mengikuti dua courses. Course pertama yakni tentang Data Science, AI, and GIS, course ini menawarkan tentang bagaimana kita dapat memanfaatkan atau mengelola data dengan bantuan AI dan dengan teknologi GIS, output nya nanti setiap mahasiswa yang ikut course ini dapat mengerti metode apa saja yang digunakan dan bagaimana penggunaannya untuk membantu risetnya. Menarik karena dalam course ini ada berbagai macam peserta yang tidak hanya dari Wageningen University namun berbagai uni di Belanda dan bahkan diluar Belanda. Menarik, well ketika di cek memang course ini cukup mahal biaya pendaftarannya. Tapi Alhamdulillah karena salah satu tim pengampuhnya mendapatkan grant, dan grant yang dia dapatkan dijadikan untuk membiaya beberapa siswa dari Wageningen untuk ikut berpartisipasi, saya salah satunya. Course kedua yang saya ikuti adalah reviewing scientific manuscripts, ini juga coursenya ringan karena cuma setengah hari atau 4 jam pelajaran. Namun, ilmunya karena jadi bekal yang ok banget untuk membantu dalam proses menulis.
Oh ya, diluar kehidupan akademik, kehidupan umum lainnya juga menarik, karena di Europe sedang marak-maraknya perang antara Russia dan Ukraini waktu itu. Jadi housing saya terdampak, karena menggunakan system heating central, maka pemakaian setiap penghuni dijadikan pro-rata untuk setiap penghuni kamar. Well, semula housing yang sudah cukup mahal menjadi jauh lebih mahal harganya mengharuskan saya untuk subskripsi lagi untuk cari housing baru yang lebih affordable. Ternyata tidak semudah itu emang, sudah berlangganan di 3-4 agen yang juga harus berbayar tiap bulannya. Ternyata tak kunjung juga otomatis langsung dapat. Alhasil saya memutuskan untuk berhenti berlangganan dan coba mengikuti kenaikan harga sementara sembari cari-cari lagi.
Scrolling Facebook di group Sewa Housing/Apartments di Wageningen-Ede-Bennekom akhirnya saya melihat satu postingan yang bilang ada satu rumah disewakan di Ede. Iseng dan udah pake mode coba ajalah ya, tanpa ekspektasi apapun. Menanyakan apakah housingnya masih tersedia. Lalu jam 12.07am (dini hari) pesan sayapun dibalas. Beliau bilang “iya masih tersedia, namun saya mendapatkan banyak sekali respons. Kemudian dia memastikan apakah pendapatan saya memenuhi kriterianya”. Tanpa banyak aiueo saya pun langsung aja jawab iya dan iya dan iya. Berselang beberapa menit kemudian, beliau menawarkan apakah saya bisa datang di hari X dan jam Y untuk melakukan viewing. What? nooo ini diluar nalar sebenarnya, udah diatur Allah banget kayaknya deh. Well. akhirnya sayapun datang dan viewing, pas ketemu dengan orangnya langsung beliau bilang yang respon ada sekitar 70an orang, dan dia memilih 7 orang untuk bisa viewing. Alhamdulillah saya salah satunya.
Yup, begitu selesai viewing, beliaupun bilang, dari 7 orang yang viewing, akan ada 3 orang yang harus datang lagi viewing kedua dan harus bertemu dengan ownernya langsung untuk diwawancaranya. Alhamdulillahnya dari 7 orang itu saya termasuk salah satu yang terpilih untuk wawancara dengan owner. Well, sayapun set tanggal dan waktu selanjutnya untuk janjian. Beliau bilang, apakah saya bisa memberikan deskripsi singkat kenapa mau tinggal atau pilih housing ini dan perkenalan diri. Langsung gercep saya pun menuliskan:
“Dear XX,
My name is Agustin Capriati. I did my master’s degree in Wageningen seven years ago. I really like WUR and its environment, which is why I am returning as a PhD student to WUR. I am from Indonesia dan have quite a few experiences travelling and living abroad. I live with my husband, and he also studies at WUR. We both love cats and animals in general, and I also like plants. Some of my colleagues considered me an environmentally conscious person who takes energy and water consumption into account. Our income meets the income requirements to rent the apartment, and we are really hoping to get the best chance to rent your place, and looking forward to meeting you in person and hearing good news from you.
Best,
Agustin
Singkat cerita satu paragraph singkat tersebut diteruskan ke hown owner dan kami berhasil untuk ke tahap interview dengan home ownernya. Setelah proses wawancara di tanggal 19 Oktober 2023, malam harinya setelah dinner time sayapun kemudian mengirimkan pesan singkat yang menyatakan terima kasih atas waktunya wawancara dan memberikan signal bahwa sangat tertarik untuk sewa rumahnya sembari juga menjelaskan how challenging it is untuk mencari rumah di Belanda akhir-akhir ini. Tak disangkah ternyata pesan saya dibalas jam 10.18 malamnya.
Keesokan harinya sayapun agak kaget, pertama lihat hp setelah sepagian beraktivitas ada pesan masuk dari home ownernya. Beliau bilang “Good morning Agustin, I am happy to inform you that you and Benrilo can rent the apartment XX XX from the 1st November” Kemudian beliau menambahkan to which email address can I send you the rental agreement? What?? Noo… sempat agak gak percaya karena saat udah hopeless dan terima saja di housing yang naik terus hargannya, akhirnya jawabanpun datang.
Alhamdulillah, semua proses administrasi berhasil dilakukan dengan baik dan smooth. Tanggal 1 November 2023, sayapun kemudian datang lagi ke housingnya, proses serah terima kunci sekaligus ngecek untuk meteran air dan listrik. Setelah itu pemilik rumah dan tenant sebelumnya, mengucapkan selamat dan mereka meninggalkan saya sendirian di rumah baru ini. Ede, here you are! Semoga menjadi tempat baru yang memberikan keberkahan bagi keluarga saya. Aamiin.
Sebulan tinggal di rumah baru, alhamdulillah semua proses berjalan dengan lancar. Kasur dan tempat tidur sudah ada, dan kebutuhan lainnya pun telah lengkap. Well dengan drama beli mesin cuci yang di dorong dengan gretekan sendiri, Alhamdulillah kami settled in dengan baik. Karena dulu tinggal di housing yang bentuknya studio dan sekarang ada kamar serta ruang tamunya, jadi keberasa agak kosong. Scrolling di maarkplaats nemu kucing yang yang amat lucu, mirip dengan Cho kucingnya mama, ternyata Ben masih belum mengiyakan, begitu bilang iya ternyata kucingnya malah sudah diadopsti orang. Fyuuh,,,
Jadi cari-cari lagi hingga nemu lagi satu kucing yang siap diadopsi karena pemiliknya mau pindah negara dan gak bisa bawa kucingnya. Lokasinya di Rotterdam untuk ambil, jauh juga ini sebenarnya dan agak bingung gimana cara bawanya. Well, akhirnya Ben setuju juga, jadi kamipun berangkat utk menjemput kucingnya. Alhamdulillah, Neira resmi kami adopsi di tanggal 30 Desember 2023. Kini tempat baru kami terasa pas dan menyenangkan.
