“winter” tak selalu identik dengan “salju”

“sudah turun salju belum?”

“bagaimana rasanya salju?”

“sekarang jam berapa?”

Serta sederet pertanyaan lainnya yang pernah ditanyakan kepada saya. Kadang kala nya saya menjadi sedikit bosan mendengar pertanyaan yang terus menerus berulang yang dengan kontekstual yang sama. Secara pribadi, saya sendiri juga kadang masih bingung untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kadang, saya menjawab dengan singkat dan cenderung cuek bebek. Ternyata di bulan Desember yang sangat erat kaitan dengan Natal, kita di Indonesia terkadang terlalu di cekoki dengan film-film natal yang selalu bersalju. Sehingga pada akhirnya sebagian dari kita pun berpikir bahwa jika natal itu ada saljunya.

Well, mungkin bisa sedikit saya utarakan bahwa winter tidak selalu identik dengan salju. Pertama, winter atau musim dingin sendiri jika dijelaskan dengan fenomena alam adalah dengan berganti nya posisi bumi akibat rotasi terhadap matahari yang kemudian dapat menyebabkan gelap menjadi lebih panjang dan terang cenderung menjadi singkat. Hal ini juga mengubah pola waktu setempat di daerah tertentu menjadi satu jam dimundurkan dari waktu seharusnya. Contohnya, di akhir Agustus hingga 25 Oktober tahun 2015, perbedaan waktu di Indonesia dan Belanda adalah 5 jam lebih cepat di Indonesia, karena perubahan waktu tersebut maka perbedaan nya sekarang menjadi 6 jam.

Kami, sebagian mahasiswa yang berasal dari negara tropis yang merasakan hangatnya matahari sepanjang tahun bahkan kadang identik dengan “bau matahari” begitu mendengar winter telah tiba, menjadi bersemangat karena cenderung termindset adalah salju akan datang. Suatu pagi saya membuka grup media sosial yang menunjukkan foto-foto bahwa di atap rumah, ataupun lapangan olahraga sudah memutih dan berpendapat itu adalah tanda turunnya salju. Akan tetapi, sebenarnya warna putih di atap rumah dan lapangan tersebut bukanlah turunnya salju melainkan tetesan embun yang kemudian membuka dikarenakan suhu memang sangat rendah sehingga mampu membuat nya beku. Samalah seperti kulkas jaman dahulu yang masih bersalju kompartmen beku.

Sampai sekarang, saya yang tinggal di bagian tengah Belanda, belum merasakan turunnya salju. Bahwasanya salju akan turun ke daerah yang lebih ke utara, Groningen misalnya. Sempat diliburkan beberapa hari kuliah dikarenakan turunnya salju dan cuaca yang tidak cukup baik. Kemudian, harusnya saya merasakan turunnya salju pertama di Luneburg, Germany jikalau saya tidak pulang sebelum sehari sebelum salju menyapa kota itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *