Hujanku merindu

Sudah tiga hari berturut-turut Wageningen dilimpahkan barokah air dari langit. Hujannya pun tak seperti biasanya, biasa seperti gerimis di Indonesia. Namun, hujan kali ini adalah hujan yang sebenarnya, hujan yang cukup membasahkan walaupun bersepeda dalam waktu satu menit. Hujan ku merindu…

Kali ini terjawab sudah rinduku pada hujan, suara hujan yang beradu dengan genteng-genteng rumah terdengar sangat familiar, walaupun satu tidak tinggal di lantai paling atas yang dekat dengan genteng. Tapi jika jendela saya buka, suaranya tetap terdengar seperti dekat sekali dengan genteng. Ada perasaan senang dan merindu dengan suara itu. Suara hujan, hujan di bulan Ramadhan.

Alhamdulillah hari ini buka bersama dengan guru-guru dan para pembelajar yang tak berhenti untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Terima kasih, atas undangannya Mba Hanny, Silvi, Fidzah, Mba Winda, Mba Nindya, Mba Eke, Nia dan Mba Gisi. Pembukaan menu berbuka dengan takjil kurma, cilok, buah-buahan, es buah, dan kue bolu. Alhamdulillah…. rasanya seperti di rumah, cilok mendekati rasa pempek di lidah saya, berbuka bersama, beramai-ramai membuat rasa haru dan rindu bersamaan dari sang hujan.

Kemudian, kami melanjutkan sholat maghrib berjamaah dan setelahnya makan soto ayam + daging empal + kerupuk + sambal yang rasanya mirip dengan rasa masakan Indonesia, pengobat rindu lidah. Senang rasanya, seperti menemukan orang yang sama kembali, mulai menemukan orang yang hampir sama. Satu sosok yang sama dengan tante bepu :). Beliau mengaji nya luar biasa enak di dengar dan luar biasa sabar mengajarkan saya yang huruf alif sampai ya belepotan tak karuan. Beliau pun ingat kalau soto untuk saya tidak pakai kol dan tomat (alias sayur).

Kenyang rasanya,,, nikmatnya berbuka hari ini, menu yang paling sesuai selama bulan puasa :). Tak hanya itu, setelah makan ditutup dengan tiramizu dari Fidzah dengan rasa cappuccino yang masih terasa di lidah. Hahahaha, hari yang spesial sekali lagi saya nyatakan, bagaimana tidak, hari-hari biasanya berbuka puasa saya di lengkapi dengan masakan yang simpel dan cenderung itu-itu saja, berputar telur goreng, rebus, ayam goreng, sup, mie goreng, kurma dan buah-buahan saja. Hahahaha,,,

Sekitar pukul 11.30 malam kami lanjutkan dengan tarawih bersama di koridor a lantai, common room, dilengkapi suara hujan, tarawih malam ini semakin membuat saya merindu, terbayang tarawih di masjid bersama dengan ine  (nenek) dan nenek-nenek lainnya, hujan saya merindu suasana itu. Hujan terima kasih atas jawaban rindu dari mu :).

Wageningen, 16-17 Juni 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *