Negeri mu bukan negeri ku

Sepulangnya saya kembali ke negeri tercinta pada tangga 21 Agustus 2016, beberapa minggu belakangan dan sepanjang perjalanan saya berdoa untuk diberikan kesabaran dan dijaga kadar keemosiannya. Mengingat saya adalah orang yang rentan dan mudah geram alias naik darah melihat sesuatu yang tidak seperti seharusnya. Hal ini memang telah menjadi beberapa cerita dari mahasiswa Indonesia yang telah ataupun sedang menempuh studi di Eropa, Amerika, Australia atau negara-negera di belahan dunia lainnya yang memiliki tingkat kepatuhan terhadap aturan yang tinggi alias negaranya tertata dan teratur. Bahwa sepulangnya mereka kembali ke tanah air, rentan akan stress dan banyak mengomelnya, mengomel karena kenapa negeri sendiri tidak bisa teratur contohnya.

Ternyata kejadian ini juga menimpah saya secara pribadi, panasnya ibu kota ditambah dengan shelter bus yang datang tidak tepat waktu, penumpang yang berebutan, serta sopir bus yang berhenti tidak pada tempat alias di tengah jalan. Cukup membuat momok shock culture terhadap negeri sendiri memang terjadi. Bergumam dalam hati, Ya Allah tetap beri hamba kesabaran!!! Sembari mengingat-ingat video yang telah dipaparkan oleh Bapak I Made Andi Arsana tentang apa yang terjadi dengan mahasiswa Indonesia pasca studi di luar negeri. Ternyata memang begini sindromnya!!!

Kemudian, beberapa hari berikutnya ada-ada saja hal yang menimpa saya yang mungkin hal tersebut adalah hal biasa terjadi. Namun entah kali ini menjadi rasanya berbeda sekali. Maaf jika banyak yang berpendapat dan bahkan malah bisa berkomentar seperti “baru saja belajar setahun di luar negeri, lagaknya sudah seperti tak akan kembali pada negeri”. Saya mohon maaf, tapi nanti jika anda mengalaminya sendiri mungkin akan sama.  Sistem birokrasi, transportasi, dan segala jenis macam lainnya di negeri ini memang di atur sedemikian rupa untuk menempah manusia-manusia penghuninya lebih bersabar.

Well done, saya mencoba menenangkan diri sendiri dengan mengingat bahwa memang negeri ku seperti ini adanya bahkan sebelum saya berdomisili di negeri yang berbeda. Mulai mengingat dan meresapi kembali beginilah apa adanya. Ditambah lagi setelah berdiskusi singkat dengan kawan-kawan kuliah, saya harusnya bersabar dan menerapkan pelajaran yang saya dapat dalam cerminan kegiatan keseharian saya.

Negeri mu bukan negeri ku!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *