Pentingnya catatan harian

 


Banyak dari kita saya yakin yang masih menyempatkan diri sepuluh atau lima belas menit untuk menulis di buku catatan hariannya. Namun, saya juga yakin tak sedikit dari kita yang sekedar melewati hari dan tanpa menuliskan catatan apapun. Kali ini di sela-sela organizing data tesis saya yang semakin membuat saya deg-degan dan leher saya tegang, saya ingin berbagi mengenai pentingnya membuat atau memiliki catatan harian.

Tentu ingat bukan, anak angkatan 90an atau 92 pasti tidak asing dengan istilah binder yang isi atau kertas nya warna warni juga dengan berbagai gambar/background. Saking ngehits nya binder kala itu, hingga satu orang rela bertukar dengan orang lainnya sekedar untuk koleksi isi binder. Juga mungkin masih ingat bukan dengan buku catatatn berukuran mungkin tidak lebih dari 15cm dengan gembok kecil. Nah, itu adalah sekelumit tentang awal mulanya binder dan catatan harian. Namun, kebanyakan dari kita (angkatan 92) mengisinya bukan dengan catatan kegiatan harian melainkan dengan lirik lagu atau puisi-puisi. Ya kan??? Ah, mengaku saja…. memang pada masa nya kok, saya pun ingat isi buku catatan saya hanya barisan lirik-lirik lagu.

Memasuki bangku sekolah SMA, saya mulai menggeluti untuk belajar bahasa Inggris lebih lagi, karena memang bahasa menurut saya bisa membuka ke dunia baru juga karena kemampuan bahasa inggris saya masih pas-pasan hingga sekarang. Waktu itu, berawal dari sms yang ketahuan oleh guru SMA di kelas (bukan contoh yang baik) yang berisikan tentang cerita saya dengan teman mengenai kejadian hari kemarin. Kemudian, sebagai imbalannya di panggillah saya ke ruang khusus untuk guru dan siswa berbicara (dalam artian hanya siswa yang bermasalah, yes saya cukup bandel juga ternyata). Hasilnya adalah saya diminta oleh guru saya untuk menuliskan cerita keseharian saya dalam buku saku kecil yang bisa saya bawa kemana-mana, namun dalam bahasa inggris. Setiap sore buku tersebut wajib saya serahkan kembali kepada guru saya untuk kemudian beliau koreksi dari segi bahasannya.

Nah, semenjak itu saya mulai sedikit demi sedikit terbiasa untuk menulis catatan harian. Hingga terbawa kebangku kuliah dan sampai sekarang. Ingat sekali awal kuliah S1 satu buku khusus untuk catatan harian tidak habis dalam setahun, which mean saya tidak produktif menulis meskipun sudah dalam tahap mau menulis catatan harian. Singkatnya, kebiasaan tersebut semakin hari ternyata semakin tumbuh dan berkembang. Tidak menyangka sekarang satu buku yang berjumlahkan 256 halaman sudah terisi penuh. Tetapi, hari ini saya tidak bisa menulis karena halamannya telah habis. Besok saya akan membeli buku yang baru, buku catatan yang biasanya saya pakai adalah bewarna coklat, kertas kecoklatan atau kuning tanpa garis.

Nah, sekarang saya akan tuliskan beberapa alasan kenapa pentingnya memiliki catatan harian, yakni:

  1. Catatan harian membantu kawan-kawan mengingatkan apa saja yang telah kawan-kawan jalani dalam kesehariannya. Otak kita memiliki kapasitas tertentu untuk mengingat, yang di ingat tentunya yang memiliki value atau momen yang unik sehingga terekam dengan baik, seperti momen ketika kawan-kawan sangat bahagia atau sedih sekali. Nah momen yang berada di middle kawan tertimbun dengan hal lain yang menurut fungsinya saraf kita lebih menarik. Padahal tak jarang kadang informasi penting juga terjadi di momen middle tadi. Sehingga dengan adanya catatan harian, jika dalam waktu kosong kita bisa membaca kembali untuk mengingatkan kita terhadap apa saja yang pernah kita lakukan atau alami.
  2. Catatan harian membantu kawan-kawan melepaskan atau meringankan beban. Bagaimana bisa? karena mungkin banyak dari kita yang menyatakan bahwa dengan adanya catatan harian malahan mengurangi jam produktif kita lumayan 10-15 menit dapat mengerjakan abc. Well bagi yang beralasan demikian, anggap saja bahwa 10-15 menit yang kawan-kawan luangkan untuk menulis yakni investasi masa depan dalam tabungan ingatan dan melepaskan beban. Dalam artian jika kawan-kawan lagi, membaca kembali catatan harian kawan-kawan dan ada hal yang lucu, pengalaman saya, saya akan kembali tertawa mengingat momen tersebut dan sebaliknya jika momen yang pernah tertuliskan adalah momen berat, dimana banyaknya cobaan abc yang waktu itu kita keluhkan, maka dengan membaca ulang catatan tesebut membantu kita sadar bahwa kita telah melewati momen tersebut dan sekarang masih bisa bertahan, legah mungkin rasanya mengingat bahwa betapa tangguhnya kita.
  3. Catatan harian membantu kita menjadi orang yang lebih teroganisir. Bagaimana bisa? karena dengan dibentuknya kebiasaaan menulis 10-15 menit perharinya, maka dengan sendirinya pola kerja otak kita akan memogramkan agar menulis 10-15 menit. Hal inilah yang kemudian juga membantu kita menjadi orang yang lebih terorganisir terutama jika yang kita tulis adalah selain cerita atau pengalaman yang menarik dihari yang bersangkutan juga planning for the next day, jadi kita bisa menyiapkan hari esok lebih baik bukan? karena kita sudah memiliki planning.
  4. Jika kejadian yang tidak diinginkan terjadi, catatan harian adalah bisa dijadikan sebagai tracking code. Karena kawan-kawan telah aktif menuliskan kejadian perharinya, tentunya juga akan terekam kita bertemu dengan siapa, membicarakan apa dan berbagai macam keterangan lainnya. Sehingga pihak yang berwenang bisa dengan mudah melacak keadaan atau kondisi terakhir kita.
  5. Membuat hubungan lebih erat, nah ini bagi yang memiliki sahabat pena, sahabat karib atau sahabat hidup juga bisa membantu hubungan lebih erat. “Pasangan” yang memiliki kebiasaan untuk menulis catatan harian dinyatakan memiliki hubungan yang lebih harmonis. Hal ini dikarenakan, mereka bisa bertukar buku catatan harian, karena kadang melalui tulisan bahasa kadang lebih terasa hangat dan melekat di ingatan. (mohon dicatatan, pasangan bukan hanya pasangan dalam artian superficial).
  6. Catatan harian melatih diri untuk menjadi lebih jujur. Secara pribadi kadang saya sulit untuk memercayai orang tapi bukan berarti juga memiliki kecurigaan yang mendalam, melainkan kewaspadaan tingkat dewa. Hahahaha, nah dengan adanya catatan harian kita bisa bercerita secara jujur, toh yang membaca catatan juga diri kita sendiri, dengan jujurnya kita terhadap diri kita sendiri tentunya akan berujung juga jujurnya kita terhadap orang lain.

Sekian, penjelasan singkat mengenai mengapa catatan harian itu penting! Celotehan pikiran ditengah sibuknya rename foto fieldwork sebelum di analisis dan juga tingkat persiapan data. Padahal belum juga menulis dan pertengahan Agustus harus ujian. Ya, mohon doanya bagi kawan-kawan yang membaca! Salam 🙂

Wageningen, 11 Juli 2017, 11:26pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *