Jarak adalah cara pandang

Saya ingat betul ketika saya berada di sekolah dasar, memikirkan bahwa jarak Sekayu-Palembang teramat sangat jauh. Sekayu, salah satu kota dari Kabupaten Musi Banyuasin yang berjarak sekitar 130km dari kota Palembang, Sumatera Selatan. Merupakan sebuah kemewahan dan nilai yang wah ketika bisa berlibur ke Palembang, walaupun hanya ke Punti Kayu. Well ya memang begitulah adanya cara pandang bahwa Sekayu-Palembang memang jaraknya jauh. Anehnya, menurut saya tidak hanya saya sendiri yang memikirkan hal demikian bahwasanya Sekayu-Palembang memang jauh, kebanyakan masyarakat sekitarpun juga berpikir demikian.

Beranjak saya bertumbuh akhirnya, di kelas satu SMP akhir saya bergabung dengan tim basket KJL alias singkatan dari Kak Joni Loh,,, akhirnya saya mengenal dan mengunjungi kota yang mendekati Palembang seperti Betung beberapa kali untuk sparing dan latihan gabungan dengan sekolah lain, tim yang dibentuk atau dari jejaring pelatih saya agar pola main kami berkembang. Menginjak memasuki usia untuk memasuki SMA, saya ingin sekali masuk SMA1, SMA dengan tim basket yang handal-handal dan terkenal di kalangan siswa-siswa lainnya di Kabupaten Musi Banyuasin.

Akan tetapi, yang dituliskan untuk saya adalah berkata lain, saya di daftarkan oleh guru SMP untuk tes masuk SMA2, SMA yang waktu itu masih ada gelar Unggulan setelahnya. Akhirnya, sayapun mengikuti tes, sekedar mengikuti. Tes masuk ke SMA2 ini cukup lumayan, pertama administrasi rapor harus di atas 75. Tidak hanya dari rapor kami pun di tes lagi mengenai beberapa soal dasar baik dari matematika, fisika, kimia, biologi dan ilmu pengetahuan sosial. Selanjutnya siswa-siswa di tes fisiknya, lari dengan tempo yang telah ditentukan dari sekolah dan waktu yang juga ditentukan dan ditutup dengan tes bahasa inggris baik secara lisan maupun tulisan. Tes ini memakan waktu kurang lebih 3 hari, kemudian langsung diumumkan setelah akumulasi dari nilai tersebut tercapai.

Sekolah ini hanya menerima maksimum 120 siswa per angkatannya, ketika melihat papan pengumuman saya akhirnya melihat nama saya berada di urutan ke delapan puluh sembilan (89), iya delapan puluh sembilan yang artinya saya mau tidak mau harus masuk ke sekolah ini. Ketika memberi tahu kepada orang tua dan keluarga beliau sangat senang, namun secara pribadi waktu itu saya tidaklah sesenang beliau, karena saya hanya ingin masuk SMA1 dengan tim basket yang terkenal, pikiran pendek anak berumur 15 tahun kala itu. Setahun sudah menjalani kehidupan menjadi anak SMA2 atau dikenal dengan SMANDA, saya merasakan tidak betah alias ingin pindah, mulainya saya ajukan pernyataan untuk pindah kepada orang tua, namun waktu itu orang tua saya masih menyarankan coba lagi dulu satu semester ke depan, kalau memang masih merasa tidak betah baru pindah.

Nah lagi-lagi memang sudah dituliskan bahwa saya sebagai alumni SMANDA, karena di semester berikutnya saya bertemu dengan kawan-kawan kelas “CRAZZY”, Creative, Religius, Bizarre, Yahud, kasih dah…. :). Di kelas ini saya bertemu dengan kawna-kawan yang sangat seru sekali, untuk bermain juga untuk belajar. Tidak hanya itu, saya juga mulai menemui pola dan ritme belajar di SMANDA, bertemu dengan guru-guru yang super pula membuat saya semakin betah. Ingin belajar menulis ilmiah akhirnya saya bergabung dengan tim karya tulis ilmiah SMANDA, dimbimbing oleh Miss Nila dan Sir D, membuat saya semakin jauh meninggalkan kalimat untuk pindah dari SMANDA. Singkat ceritanya, berawal dari karya tulis membuat cara pandang saya terhadap jarak kembali berubah.

Bagaimana caranya??? Setelah gagal berulang-ulang kali dan tidak lolos untuk mengikuti tahap lanjutan, akhirnya karya tulis ilmiah saya lolos dalam ajang Indonesian Science Project Olympiad pertama kali pada Maret 2009, yang di adakan di Jakarta. Well, kali ini yang saya pikirkan yakni jarak Sekayu-Jakarta. Jakarta!!! Iya Ibukota Indonesia, pusat dari segala kegiatan ekonomi dan lebih dari 70% uang Indonesia berputar, roda-roda kehidupan cepat sekali berubah di kota ini, juga dikenal dengan kota yang tidak pernah tidur!!! Ini memang bukan kali pertama saya akan ke Jakarta, namun merupakan kali pertama saya ke Jakarta dalam rangka mengikut kompetisi ilmiah dan juga dengan guru dari sekolah. Semenjak itu, pandangan saya akan jarak juga kembali berubah :). Sekayu-Jakarta lebih dari 730km bisa saya datangi kurang dari sehari. Tahun berikutnya, saya kembali terpilih untuk bergabung dalam kompetisi serupa, kali ini sebelum berangkat saya spontan berkata kepada mama saya, Turki Ma, tahun ini! Beliau hanya tersenyum waktu itu, saya ingat betul, saya spontan mengatakannya sebelum berangkat ke sekolah dan mama sedang menyetrika dan benar alhamdulillah, walaupun tidak ke Turki, saya dan rekan saya terpilih untuk mengikuti lomba lanjutan di tingkat Internasional yakni ke Amstedam, Belanda.

Wooowww,,, otak saya mungkin waktu itu tidak bisa mengakulasikan berapa jauh jarak antara Sekayu-Amsterdam yang ada hanya kalimat “jauuuuuuuh sekaliiii jaraknyaaaa”. Lagi, cara pandang mengenai jarak sedikit bergesar ke level yang lebih luas meskipun belum terlaksana, waktu itu kami belum bisa ke Belanda karena beberapa alasan. Namun, terima kasih ISPO 2010, terpilihnya waktu itu untuk mengikuti INEPO 2010 telah membukakan peimikiran dan mengubah pola atau cara pandang saya terhadap jarak.

Selanjutnya, saya memutuskan dan bertekad untuk bisa bersekolah di Jawa, UGM menjadi target saya waktu itu, jurusan Biologi, namun lagi,,, nasib saya ternyata tidak bersekolah di UGM, tiga kali saya mencoba tes seleksi masuk UGM melalui berbagai jalur tapi tetap tidak berhasil. Well, peluruh terakhir yakni ada undangan dari Universitas Brawijaya, akhirnya saya juga tetap memilih jurusan MIPA Biologi, sebelum akhirnya telpon saya berdering dari Aba (ayah) saya untuk berubah pilihan ke Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Singkat cerita saya lolos di Brawijaya di FPIK dan menjalani kehidupan perkuliahan seperti mahasiswa lainnya.

Namun, hasrat tentang jarak saya semakin berkembang, hasrat untuk menginjakkan kaki lebih jauh lagi, tidak hanya Sekayu-Palembang-Jakarta dan Malang. Di bangku kuliah saya bergabung dan membentuk tim karya tulis juga, berhasil mengikut beberapa kompetisi nasional, serta lolos di salah satu ajang bergengsi karya tulis mahasiswa yakni PIMNAS 2012 di Yogyakarta. Selanjutnya, saya ingin mencoba ke luar negeri namun dengan atau atas nama kampus dan bebas biaya, dalam hati saya. ASEAN adalah negara yang paling memungkinkan kala itu, akhirnya November 2012 doa saya juga segera di mujabah, bersama kawan saya mengikuti kegiatan oleh ASEAN Youth Friendship Networking (AYFN) ke Chulalongkoron University di Thailand. Pertama kali saya keluar negeri dan tanpa biaya pribadi :). Mission accomplished!!!

Ya memang bukan pencapaian yang wah, namun bagi saya itu adalah tahap dan proses yang telah dituliskan untuk saya. Tidak cukup di Thailand, keinginan saya pun semakin berkembang dan berkembang, hingga akhirnya saya mendapatkan kesempatan lagi untuk mengunjungi negara dekat lainnya seperti Malaysia dan Vietnam serta Jepang. Well, semenjak itu jarak antara Sekayu-Palembang menjadi singkat, berkembang menjadi Sekayu-Jakarta, Sekayu-Malang, Malang-Jakarta, Malang-Jogyakarta, Malang-Bogor, Malang-Bali dan kota-kota lainnya, Malang menjadi based awal saya menggantikan Sekayu untuk berangkat ke beberapa tujuan kota lainnya.

Jauh dalam hati saya tersimpan negara JERMAN,,, negara dimana presiden ketiga Republik Indonesia menuntaskan pendidikannya dan juga berkiprah dalam bidang teknologi penerbangan. Negara yang tim sepakbolanya selalu saya idolakan. Mungkin ada beberapa yang bingung kenapa tidak BELANDA? toh di tahun 2010 juga sudah mendapatkan kesempatan untuk ke Belanda tidak ke Jerman! Ah, panjang ceritanya untuk dijelaskan, Jerman negara di benua biru yang ingin saya kunjungi tanpa alasan. Hanya ingin Jerman!!! Alhasil keinginan ini mengantarkan saya untuk mencari informasi bagaimana caranya ke Jerman dan there is a will, there is a way! Saya dipertemukan dengan salah satu dosen alumni IPB yang pernah mengikuti kegiatan training yang mana peserta terbaik akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan hibah dana penelitian dari Jerman melalui DAAD. Mungkin ini jalannya, pikir saya!!! Benar saya mengikuti kegiatan ini membukakan saya lagi ke pintu dengan cara pandang yang berbeda pula. Saya mulai mengenal beberapa peneliti yang jam terbangnya lebih tinggi, yang jadwalnya hari ini pagi ada di IPB, sore beliau ke Jakarta dan malam flight ke Jerman, esok hari nya beliau sudah mengikuti konferensi atau memberikan kuliah di Jerman, esoknya lagi saya lihat foto beliau di tempat lainnya. Wwow,,,, dalam hati saya waktu itu, sungguh hebat dan indah sekali,,,

Tidak berhenti hanya dalam batas kagum, saya pun memberanikan diri kadang bertanya tentang bagaimana cara beliau mengatur waktu dan juga kadang bertanya apa yang beliau lakukan dan selalu penasaran kegiatan apa yang beliau ikuti ketika beliau seumur dengan saya sekarang. Hingga akhirnya, di semester akhir kuliah S1 di Brawijaya saya bulat bertekad ingin melanjutkan studi saya di luar negeri. Jerman tentunya, 3 lists pertama universitas yang saya tuju dan list ke empat adalah di Belanda. Lagi, takdir saya dituliskan secara berbeda (baca cerita ini disini). Alhamdulillah saya diterima untuk bersekolah di Belanda melalui beasiswa dari STUNED.

Semua berjalan lancar alhamdulillah hingga saya berangkat ke Belanda pada 12 Agustus 2015, keluarga saya ketika itu berpikiran bahwa mungkin tidak akan bisa bertemu dengan saya hingga 2 tahun ke depan, karena pihak beasiswa hanya menanggung biaya untuk pulang dan pergi dari tanah air ke Belanda sekali saja. Sesampainya di Belanda, benar, cara pandang akan jarak kembali berubah, jarak 13 jam non-stop yang ditempuh dari Jakarta-Belanda tak ubahnya waktu untuk Malang-Jakarta dengan kereta api. Saya tertawa sendiri kadang dalam hati, mengingat kembali Sekayu-Palembang, jarak yang begitu jauh ketika saya berumur kurang dari 15 tahun. Alhamdulillah, kurang dari 2 tahun saya sudah bisa pulang ke rumah 2 kali, iya 2 kali yang artinya 2x 13 jam pulang dan pergi, 2x pulang pergi Jakarta-Palembang juga 2x pulang pergi Palembang-Sekayu sudah saya lewati.

Mengingatkan, menyadarkan dan memberikan pelajaran bagi saya adalah ketika kemarin di fieldwork saya yang mana, saya harus pergi dari Amsterdam-Jakarta, Jakarta-Sorong melalui Makassar dan di hari berikutnya harus ke Manokwari, 2 hari setelahnya kembali ke Sorong, lalu di hari berikutnya harus ke Misool, dari Misool saya mulai perjalanan ke pulau-pulau kecil lainnya, hingga akhirnya lagi mengantarkan saya dengan rute., Misool-Sorong-Makassar-Jakarta-Malang-Bali-Jakarta-Palembang-Sekayu-Palembang-Jakarta-Amsterdam-Wageningen.

Terima kasih kepada semua orang-orang yang berada di sekitar saya yang selalu mengingatkan saya dan memberikan saya pelajaran secara langsung ataupun tidak, terima kasih kepada kawan yang telah berkomentar ketika menanyakan saya sekarang dimana dan saya menjawab sudah kembali di Belanda lagi, lalu menyeletuk Indonesia-Belanda seperti Watu Mujur-Brawijaya atau Brawijaya-Matos atau seperti jarak ke pasar. Terima kasih atas komentar tersebut yang mengajarkan saya bahwasanya jarak hanyalah cara pandang, memang jauh puluhan, ratusan, ribuan atau puluh ribuan kilometer memang, namun tak ada yang tak mungkin. Bak perjalanan seorang Shepherd dalam buku the Alchemist yang ingin ke Mesir dari Spanyol.

Sekayu-Palembang ku telah berubah :). Semoga kalian juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *