Semakin banyak tahu = semakin banyak tidak tahu

Larut, malam memang sudah larut. Saya tetap mengenakan jam tangan, saya lirik pelan menunjukkan pukul 6.36am (waktu Indonesia). Semingguan belakangan tak terasa memang malam sudah berganti pagi, perutpun kadang berdemo ria minta diisi. Iya, saya kadang lupa, kalau jasmani saya juga butuh energi. Entah tidak ada urusan sekarang dengan berat badan, dalam 6 tahunan belakangan berat badan saya normal-normal saya, nilai biasnya pun kurang lebih 0.48 saja.

Dihadapkan dengan supervisor yang perfeksionis (dalam artian baik), membuat saya sendiri sungkan jika tidak bisa melakukan masukan beliau. Memang masukan-masukan beliau jika dibayangkan kadang secara realistis tidak bisa saya lakukan dalam waktu dekat. Menganalisis dengan program R misalnya, program yang belum pernah sama sekali saya sentuh, namanya pernah saya dengar tapi tak tahu macam apa itu programnya. Ternyata R adalah program untuk analisis statistik yang sophisticated pake banget. Kalau SPSS adalah program klik, klik, R mengharuskan kita untuk berpikir sendiri dan memberikan coding sendiri terhadap analisisnya.

Well ya, tapi tak ada yang tidak mungkin, bukan? selama kita mau berusaha dan berniat dengan sungguh-sungguh untuk belajar. Ketika saya dihadapkan dengan tantangan untuk mengambil data, melakukan tesis di lapangan dengan anggota yang kurangpun, alhamdulillah bisa selesai. Dikirimkan Allah orang lainnya yang senantiasa membantu dan ikhlas (Aaamiin), tanpa dibayar, tanpa diberikan imbalan apapun, mereka mau saja membantu. Membantunya pun tak tanggung-tanggung, bolak-balik Semarang-Demak-Timbulsloko dalam 2 kali sehari pun dijabin, begadang sampai larut pun juga demikian.

Sekarang, saya dihadapkan untuk menganalisis data yang telah saya kumpulkan selama di lapang. Saya tidak boleh kendor, harus tetap semangat. Pertama, estafet dari kawan-kawan yang telah membantu di lapang harus saya hargai dan saya teruskan hingga analisis selesai dan tertuang dalam laporan tesis saya. Kedua, belajar hal baru itu ternyata memang memerlukan waktu, walaupun buta dengan R sekarang sedikit demi sedikit saya mulai dekat dengan R dan berkenalan lebih jauh :). Ketiga, ekspektasi “beliau-beliau” dengan identitas sekolah di Luar Negeri, pastilah tinggi sehingga marilah kita buat ekspektasi tersebut jadi kenyataan.

Anyway, sebagai bahan belajar untuk otodidak program R saya membaca buku: “R for Dummies” dan “Numerical Ecology with R”. Salah satu hasil trial error saya :). Saya jadi senyam-senyum sendiri kalau bisa mengerti dan bermain dengan R, membayangkan nanti dalam 1-2 tahun ke depan, bisa publikasi artikel dengan kualitas statistik yang memadai. Aaamiin

Ternyata, semakin banyak belajar semakin banyak tidak tahunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *