Catatan yang akan berlanjut

 


Purna sudah tugas sebagai penerima beasiswa Master yang diberikan oleh STUNED. Juga purna sudah tugas menyelesaikan studi dan amanah untuk belajar di departemen Aquaculture and Marine Resource Management, Wageningen University and Research (WUR). Tugas dan amanah tersebut resmi telah selesai pada 29 Agustus 2017.

Tulisan ini akan saya gunakan sebagai wadah untuk membungkus secara singkat pengalaman, pembelajaran dan catatan pribadi selama dua tahun terakhir. Perjalanan dua tahun memang jika dihitung dengan jumlah hari, jumlahnya akan sama yakni 730 hari. Jika dihitung dengan jam jumlahnya 17.520 jam dan jika dihitung dengan detik jumlahnya 63. 072.000 detik (hampir sama dengan jumlah pengeluaran yang saya keluarkan selama penelitian kedua saya di Raja Ampat,,, hahaha). Namun, jumlah pengalaman, pembelajaran dan terjalinnya silahturahmi tidak bisa terhitung.

Tergabung dan resmi terdaftar sebagai mahasiswa di WUR tahun 2015, secara otomatis menjadikan saya sebagai anggota keluarga besar Perhimpunan Pelajar Indonesia Wageningen (PPIW). Walaupun saya tidak mendedikasikan diri sebagai pengurus PPIW, tidak berarti saya apatis dalam kegiatan PPIW. Beberapa kegiatan PPIW yang di adakan dalam selang waktu 2015-2017, saya sempat menjadi panitia dan kebetulan saya menjadi pengurus dalam bidang keilmuan di PPI Belanda juga sebagai (representasi) dari PPIW. Inilah keluarga besar PPIW pada tahun 2015 dengan mengenakan batik Indonesia, berlatarkan gedung ATLAS.


Hal-hal berikut yang bisa sedikit saya garisbawahi untuk menjadi glimpse perjalanan saya di Wageningen.

  1. Berkontribusi di blackboard kampus.
    Berkontribusi dalam situs kampus menjadikan pengalaman tersendiri. Pertama, tak banyak kesempatan ini didapatkan oleh mahasiswa. Kedua, hanya di mata kuliah tertentu saja, dosen yang “niat” mengupload kegiatan mahasiswa nya selama praktikum. Waktu itu dalam mata kuliah Life History of Aquatic Organism, pada 1 September 2015, saya mengamati Daphnia dan kebetulan berhasil memoto spesimen tersebut dan ternyata dosen saya meminta foto tersebut untuk dikirimkan ke email beliau, selang beberapa menit, ternyata di situs “blackboard” nya foto yang saya kirimkan telah di upload.



  2. Menonton Jerman (tim favorit saya) berlaga di Piala Eropa
    Kesempatan ini menurut saya sangatlah langka dan alhamdulillah saya bisa mencicipinya. Perhelatan sepak bola di dunia biru terkenal seantero mungkin, bagaimana tidak ajang sepakbola ini memang banyak peminatnya. Saya yang menggemari tim nasional Jerman, kala itu sempat menyaksikan langsung di stadion Stade Pierre-Mauroy, Villeneuve-d’Ascq, Perancis, pada 26 Juni 2016. Sensasi menonton secara langsung memang sangatlah berbeda dengan menonton di layar kaca, seluruh stadion bergemuruh, dengan teriakan-teriakan dari para pendukung tim nya masing-masing. Waktu itu Jerman melawan Slovakia dalam perhelatan 16 besar EUFA EURO.



  3. Menonton konser Coldplay
    Menonton konser memang diam-diam telah menyelinap dalam bucket list saya. Konser yang sangat ingin saya saksikan yakni Simple Plan, bagaimana tidak karena sedari SMP cuma mendengarkan lagu-lagunya saja, tanpa memiliki kesempatan untuk menonton langsung (maklum saya tidak memiliki uang lebih untuk sekedar menonton konser). Ternyata kebetulan sekali waktu itu ada konser simple plan di Utrecht dan yes! berhasil menonton. Selain itu, dalam kesempatan lainnya, konser Coldplay pun berlangsung dan taraaa… karena berlokasi di Belanda (Amsterdam Arena), alhasil jadilah pula saya nonton konser ini. Hip-hip hura,,, menonton langsung konser band yang lagi terkenal ini pun memberikan kesan tersendiri.



  4. Young Explorer Grantee oleh National Geographic
    Tak banyak yang bisa katakan, namun kesempatan ini menjadikan saya menjadi lebih peka terhadap amanah dan mendalami keilmuan yang akan saya geluti ke depannya. Liku-liku pertesis-an akhirnya mengantarkan saya untuk apply dalam Young Grant Explorer yang di adakan oleh National Geographic dan pada November 2016 tahun lalu, alhamdulillah saya sah menjadi salah satu grantee nya.


  5. Bertemu dengan Presiden Indonesia ke-3
    Memang menang banyak dalam kesempatan studi di luar negeri adalah memiliki chance yang menurut saya lebih besar untuk bertemu dengan orang-orang penting di Indonesia. Karena ketika beliau berkunjung ke negara-negara tertentu, tentulah peserta yang akan hadir sebagian besar adalah hanya manusia-manusia Indonesia di negara tersebut. Jika posisi kita adalah sebagai student, kesempatan ini sangatlah terbuka lebar. Bertemu dengan Eyang Habibie alhamdulillah sudah terkantong dan tersimpan dengan baik di dalam memori saya. Terima kasih Eyang, semoga sehat selalu.


  6. Interpreter dan translater untuk Center for Development and Innovation (CDI-WUR).
    Menjadi interpreter dan translater menjadikan ajang saya belajar lebih banyak, diluar kegiatan kampus. Selain itu amanah ini juga memberikan saya wadah untuk menjalin silahturahmi dan berjejaring dengan beliau-beliau yang sudah expert di bidangnya. Tulisan mengenai pengalaman ini sudah juga saya sempatkan dalam kegiatan lomba yang diadakan oleh PPI Belanda (disini).


  7. Mengerjakan tesis di tempat liburan
    Banyak sekali yang menginginkan posisi sebagai “saya” kala itu, dengan asumsi enaknya bisa mengerjakan tesis di tempat yang menjadi destinasi liburan. Yes, alhamdulillah diberikan kesempatan menjalani tesis kedua di Raja Ampat, memang memberikan saya nikmat yang luar biasa, selain mengerjakan tesis ya liburan :).


  8. Menyelam di Laut Mediterania
    Kuliah di WUR dan berkesempatan mengikuti salah satu mata kuliah yang bernama “European Workshop” mengantarkan saya untuk berkunjung ke Malta. Negara yang masih baru-baru menjadi salah satu anggora European Union ini. Berkesempatan untuk ke Malta, membuka peluang juga untuk menyelam disana. Alhamdulillah saya yang masih pemula bisa ikut menyelam di Malta.


  9. Menjadi “pembantu umum”  dalam simposium
    Bukan suatu yang big deal memang menjadi “pembantu umum” dalam suatu kegiatan yang bernama simposium. Saya men-volunteer-kan diri untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Menurut saya, ajang ini bukan hanya sebagai ajang untuk belajar dan menghadiri simposium secara gratis. Namun juga membuka peluang untuk berkenalan dengan peneliti-peneliti handal di bidangnya. Pengalaman dalam mengikuti kegiatan ini pernah saya tuliskan disini.


Saya tutup catatan ini dengan jalan-jalan singkat di kota yang bernama Amsterdam, dengan mengunjungi toko buku (2nd hand book), yang terletak di Kloveniersburgwal 58, 1012 CX Amsterdam. Kalau berhenti di stasiun Amsterdam Central bisa jalan kaki, 13 menit ke lokasi ini. Menjadi turis sehari di kota ini, lumayan lah :). Saya yakin catatan saya tidak akan berhenti sampai disini, catatan saya akan berlanjut!!!


Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *