Konservasi: obrolan para ahli dan pemula

ts

Ada cerita menarik ketika saya mendapatkan kesempatan untuk makan malam bersama pembimbing tesis saya dan juga ketua proyek dari Wetland Internasional (di Indonesia) serta seorang Professor ahli dalam bidang konservasi untuk wetland bidang mangrove. Beliau bertiga adalah orang Belanda, originally dari Belanda, hanya saya orang Indonesia dan berstatus sebagai mahasiswa. Namun, saya tidak merasa dianggap sebagai “mahasiswa” kebanyakan, beliau bertanya banyak hal tentang pengalaman saya selama berada di lapang dan menjalankan fieldwork. Memang jika ada pertemuan seperti ini, saya merasa selalu berada di meja bundar, tidak ada sudut, semua berada di posisi yang sama. Cerita menarik ketika kami mulai membicarakan topik mengenai konservasi, mulai dari konservasi mangrove hingga tempat konservasi penyu.

Selaku seorang ecologist, geneticist dan environmentalist ternyata beliau menyatakan pendapatnya masing-masing. Bahwasanya kebijakan tentang konservasi atau kegiatan konservasi yang selama ini beliau temui bukanlah “konservasi” sebenarnya. Konservasi mangrove misalnya, hampir lebih dari 95% konservasi mangrove di tanah air menganut system monospesies (hanya satu jenis) (i.e. Rhizopora mucronata atau maksimal 2-3 spesies (+ Avicennia marina). Padahal jenis mangrove yang ada dan tumbuh di Indonesia lebih dari 20 jenis. Begitupun dengan terumbu karang yang di transplantasi kebanyakan hanya jenis acropora. Tidak hanya itu, penangkaran penyu atau konservasi penyu, tukik-tukik di lepas dengan keadaan yang belum teruji akan mampu survive di alam liar bahkan ada beberapa yang sakit hingga terinfeksi jamur. Hal ini di utarakan oleh pembimbing saya, beliau menyatakan bahwa kata “konservasi” membuat orang berpikir bahwa mereka telah melakukan hal yang benar, tanpa melihat artian konservasi dan tujuan yang sebenarnya”. Padahal tujuan konservasi yang sebenarnya adalah mengembalikan suatu ekosistem, populasi ataupun spesies seperti awal mulanya dengan habitat yang semirip mungkin dengan habitat sebelumnya. Well, dengan penanaman mangrove monospesies artinya kita malah menciptakan ekosistem baru yang hanya memiliki nilai indeks keanekaragaman yang rendah.

Saya sebagai mahasiswa yang akan memiliki identitas ecology geneticist (Aaamiin) pun mulai berpikir bahwa apa yang Adolf Hitler katakana ada benarnya ”ketika kita ceritakan tentang kebohongan-kebohongan kepada setiap orang, sehingga setiap orang tersebut akhirnya menganggap kebohongan itu adalah kebenaran”. Sama hal nya dengan konservasi, ketika semua orang di cekokki bahwa konservasi adalah hal yang benar, namun tidak tahu apakah hal itu adalah hal yang benar-benar benar. Maka mereka meyakini bahwa itu benar meskipun faktanya belum tentu.

Pemerintah Indonesia memang mencanangkan berbagai hal terkait dengan konservasi mulai dari yang di darat hingga ke laut. Namun, malam ini saya juga dibangunkan bahwa tidak sepenuhnya itu bisa dan akan berdampak baik bagi lingkungan. Ingat juga pesan dari salah seorang dosen ketika saya menempuh pendidikan sarjana satu bahwa “let nature recover themselves”. Malam itu, makan malam yang menyisakan tanda tanya dan memutar otak saya kembali akan makna KONSERVASI.

Crawne Plaza-Semarang, Sunday, 30 October 2016.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *